TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau perkembangan kualitas udara dan kasus gangguan kesehatan masyarakat, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan Juru Bicara Utama Kementerian Kesehatan, Widyawati, dalam program Info Bencana Terkini bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Studio BNPB, Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu, 4 November 2026.
Widyawati menjelaskan, perkembangan kasus di lima provinsi menunjukkan tren yang berbeda. Sejumlah provinsi mengalami peningkatan kasus sehingga membutuhkan perhatian dan pemantauan lebih lanjut.
"Berdasarkan data perkembangan di lima provinsi, terlihat adanya perbedaan tren kasus. Tiga provinsi menunjukkan tren peningkatan kasus. Dalam pemaparan berikutnya disebutkan bahwa empat provinsi juga menunjukkan tren peningkatan," jelas Juru Bicara Utama Kementerian Kesehatan, Widyawati, di Studio BNPB, Rabu, 4 November 2026.
Sementara itu, Kalimantan Timur menunjukkan tren yang berbeda dibandingkan provinsi lainnya. Perkembangan di sejumlah wilayah, termasuk dua provinsi di Sumatera, juga menjadi perhatian dalam pemantauan kesehatan masyarakat.
Widyawati menegaskan, upaya penanganan dan pemantauan kesehatan tetap perlu dilakukan secara serius meskipun terdapat perkembangan yang menunjukkan kondisi positif.
"Upaya penanganan dan pemantauan kesehatan masyarakat tetap harus dilakukan secara serius," lanjutnya.
Selain memantau perkembangan kasus penyakit, Kemenkes juga memperhatikan kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Berdasarkan data ISPU per 3 November 2026 pukul 09.00 WIB, terdapat dua kabupaten/kota dengan kategori kualitas udara berbahaya dan 15 kabupaten/kota dengan kategori kualitas udara tidak sehat.
"Dua kabupaten/kota dengan kategori kualitas udara berbahaya," kata Widyawati."Lima belas kabupaten/kota dengan kategori kualitas udara tidak sehat," lanjutnya.
Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan akibat paparan pencemaran udara.
Pemantauan juga mencakup perkembangan kasus ISPA di lapangan, langkah penanganan yang telah dilakukan, serta imbauan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terdampak karhutla.
Melalui pemantauan kualitas udara dan perkembangan penyakit, upaya perlindungan kesehatan masyarakat diharapkan dapat terus dilakukan, khususnya di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara akibat karhutla.









