TVRINews, Bali
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meminta agar perguruan tinggi terus didorong bukan hanya mengejar peringkat dan reputasi di tingkat global, tetapi juga memastikan hasil pendidikan, penelitian, dan inovasi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Hal tersebut ditegaskan Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam pembukaan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026.
Badri mengatakan, capaian pemeringkatan merupakan salah satu indikator kualitas dan daya saing perguruan tinggi. Namun, nilai penting dari pencapaian tersebut terletak pada kemampuan institusi menerjemahkannya menjadi kontribusi bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Peringkat tinggi bukanlah sebuah trofi untuk disimpan dalam lemari administratif. Ini adalah platform kekuatan dan kemampuan. Nilai sejati dari peringkat universitas berkaitan dengan seberapa efektif kekuatan institusi diterjemahkan menjadi dampak institusi,” ujar Badri dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Rabu, 4 November 2026.
Ia menjelaskan, indikator pemeringkatan seperti produktivitas penelitian, jumlah sitasi, dan reputasi akademik tetap diperlukan untuk mengukur posisi perguruan tinggi di tingkat internasional. Meski demikian, pengakuan global tersebut perlu diiringi tanggung jawab yang lebih besar terhadap kebutuhan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum yang dihadiri lebih dari 1.500 pemimpin perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dari kawasan Asia Pasifik. Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk membahas arah pendidikan tinggi menghadapi berbagai perubahan dan tantangan global.
Badri juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan tinggi yang berorientasi pada tujuan (purpose-driven education). Menurutnya, kegiatan pendidikan, penelitian, dan inovasi harus memiliki arah yang jelas serta mampu menjawab persoalan nyata.
Pengembangan kemampuan teknologi, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai kemanusiaan. Mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan empati agar mampu memahami dampak teknologi bagi kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan, hasil penelitian perguruan tinggi seharusnya dapat membantu petani meningkatkan kesejahteraan sekaligus menghadapi perubahan iklim. Begitu pula inovasi energi bersih yang dikembangkan mahasiswa diharapkan dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar kampus.
Dengan demikian, kata dia keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kesenjangan, dan menjaga lingkungan.
“Peringkat memberikan kita kredibilitas untuk memimpin, sedangkan dampak adalah bukti dari apa yang telah kita berikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Badri mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin kompleks. Tekanan geopolitik, perubahan iklim, serta kebutuhan tata kelola kecerdasan artifisial yang etis membutuhkan kerja sama lintas sektor dan negara.
Ia menilai kawasan Asia Pasifik perlu memperkuat kolaborasi yang tidak hanya berorientasi pada persaingan ekonomi, tetapi juga pada penyelesaian persoalan bersama.
Badri pun mengajak perguruan tinggi, pemerintah, dan industri untuk menempatkan mahasiswa serta talenta masa depan sebagai pusat perhatian dalam setiap kerja sama. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun sistem pendidikan tinggi yang adaptif dan menghasilkan manfaat berkelanjutan.
“Tidak ada institusi atau negara yang dapat mencapai kemajuan besar ini sendirian,” pungkasnya.









