TVRINews, Jakarta
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan Bendungan Tapin di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, terus dioptimalkan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Pengelolaan bendungan diarahkan untuk menjamin kebutuhan air masyarakat, pertanian, sekaligus menjaga kondisi lingkungan.
Optimalisasi Bendungan Tapin menjadi salah satu langkah pemerintah menghadapi potensi kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Nino. Ketersediaan air juga menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan dan swasembada pangan.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pengoperasian bendungan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan air di berbagai sektor.
“Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan yang optimal, kami memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan,” ujar Dody dalam keterangannya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Bendungan Tapin yang berada di Kecamatan Piani dikelola Balai Wilayah Sungai Kalimantan III. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu penyangga ketersediaan air di Kalimantan Selatan, terutama ketika memasuki periode kemarau.
Berdasarkan kondisi terakhir, volume air Bendungan Tapin tercatat sekitar 35,95 juta meter kubik atau 68,12 persen dari kapasitas tampungan pada muka air normal.
Dalam menghadapi puncak musim kemarau, pengelola menerapkan pola operasi waduk dengan mempertahankan cadangan air sesuai Rencana Tahunan Operasi Waduk. Elevasi muka air juga dijaga agar tetap berada dalam batas operasi normal.
Selain menjaga cadangan air, Bendungan Tapin berfungsi mempertahankan pasokan air baku dan aliran sungai. Kapasitas suplai air baku yang tersedia mencapai sekitar 500 liter per detik.
Pengaturan pelepasan air dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan kondisi aliran dari wilayah hulu serta informasi cuaca. Data hidrologi dan prakiraan cuaca dari BMKG dan BRIN menjadi salah satu dasar dalam menentukan pola pengoperasian bendungan.
Pemerintah juga menerapkan skala prioritas dalam pemanfaatan air. Kebutuhan air baku menjadi prioritas sebelum dialokasikan untuk irigasi, industri, energi listrik, dan sektor pariwisata.
Selain menjaga pasokan air, pelepasan air secara teratur ke sungai dan saluran irigasi diharapkan dapat membantu mengurangi risiko penurunan muka air tanah di wilayah sekitar.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari mitigasi dampak kekeringan, termasuk menekan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Kementerian PU menilai pengelolaan Bendungan Tapin secara optimal tidak hanya menjaga ketersediaan air, tetapi juga mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat di Kalimantan Selatan.
Pemerintah memastikan pemantauan kondisi tampungan dan kebutuhan air akan terus dilakukan agar distribusi air tetap terjaga selama musim kemarau.









