TVRINews, Gresik
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar menegaskan pertumbuhan industri di Gresik, Jawa Timur, harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Ia tidak ingin masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan industri di daerah tersebut. Hal itu disampaikan Muhaimin saat berada di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Gresik, Jawa Timur, Sabtu, 8 Agustus 2026.
"Kita tidak ingin masyarakat Gresik menjadi penonton. Kita tidak ingin industrinya tumbuh, tetapi masyarakat Gresik tetap miskin dan yang kaya justru yang di luar Gresik. Itu yang tidak kita inginkan," ujar Muhaimin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurutnya, Gresik telah berkembang menjadi salah satu kota industri dengan aktivitas ekonomi yang besar. Karena itu, pertumbuhan industri perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas masyarakat lokal agar mereka dapat mengambil bagian dalam rantai ekonomi yang tumbuh di wilayahnya.
Muhaimin mengatakan, pemerintah mendorong penguatan keterhubungan atau link and match antara masyarakat, lembaga pendidikan, termasuk pesantren, dengan dunia industri.
"Kompabilitas ini penting. Bagaimana masyarakat kita punya kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga ketika industri tumbuh, masyarakat lokal juga ikut tumbuh," ucapnya.
Lebih lanjut, Muhaimin menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun keterhubungan tersebut. Selain memiliki ekosistem yang kuat dan dekat dengan masyarakat, pesantren juga dinilai memiliki kepercayaan publik dalam menyiapkan sumber daya manusia.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam penanggulangan kemiskinan. Karena itu, pesantren didorong tidak hanya menyiapkan santri menjadi sumber daya manusia unggul, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat di sekitarnya agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi.
"Ada dua target utama. Pertama, melahirkan wirausahawan yang tangguh, kreatif, dan inovatif. Kedua, menyiapkan calon tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai tuntutan dan perkembangan dunia ekonomi dan industri," jelasnya.
Pemberdayaan tersebut juga diarahkan kepada pelaku usaha di sekitar pesantren. Muhaimin menilai masih banyak usaha masyarakat yang tumbuh secara tradisional sehingga belum memiliki daya saing dan kompetensi untuk masuk ke dalam rantai ekonomi yang lebih besar.
Untuk itu, penguatan ekosistem sosial ekonomi pesantren dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut mencakup pembukaan akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, legalitas usaha, hingga akses pasar dan industri.
Di sisi pendidikan, Muhaimin juga mendorong adanya transformasi kurikulum, kompetensi tenaga pendidik, serta sarana pembelajaran agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan dunia kerja.
Dengan demikian, lulusan lembaga pendidikan di Gresik diharapkan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Kemudian, Muhaimin menegaskan keberadaan industri yang besar jangan sampai justru menciptakan kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Menurutnya, industri harus menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan yang membuka kesempatan kerja, peluang usaha, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan orientasi baru pembangunan yang didorong Presiden Prabowo Subianto, yakni memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang lebih merata dan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
"Tidak ada jalan lain kecuali kita mengubah pola kerja. Tantangannya semakin kompleks. Kita harus menghadirkan pola kerja baru agar kemajuan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat," tuturnya.









