TVRINews – Jakarta
Pemerintah Resmi Pengoperasikan Kapal Pangkalan Terapung Modern untuk Misi Pertahanan dan Penanggulangan Bencana Nasional
Langkah strategis diambil Pemerintah Indonesia dalam memperkuat kedaulatan wilayah perairan dan kesiapsiagaan bencana nasional melalui pengoperasian alutsista anyar, KRI Sriwijaya-100. Kapal jenis pangkalan terapung modern ini dirancang untuk menjawab tantangan keamanan maritim sekaligus menjadi pusat kendali operasi kemanusiaan di kawasan kepulauan.
Penguatan armada laut ini menjadi krusial mengingat kondisi geografis Indonesia yang rentan terhadap bencana alam. Ketika jalur perhubungan darat terputus akibat krisis, keberadaan pangkalan terapung memungkinkan pengerahan bantuan logistik serta personel penyelamat dilakukan secara mendesak ke titik terisolasi.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Sirait, mengonfirmasi bahwa pengerahan KRI Sriwijaya-100 menandai era baru kemampuan taktis TNI Angkatan Laut di wilayah perairan.

(Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Sirait (Foto: Bakom RI))
"Kini, Indonesia memiliki kapal yang dapat menjadi pangkalan terapung di laut, bernama KRI Sriwijaya-100," ujar Rico dalam keterangannya Yang di rilis Badan Komunikasi Pemerintahan Sabtu 17 Oktober 2026 di Jakarta.
Dari aspek keunggulan teknis, kapal ini memiliki panjang sekitar 180 meter dengan bobot perpindahan mencapai 12.000 ton. Geladak utamanya dirancang khusus untuk menampung serta mengoperasikan armada helikopter dan pesawat nirawak (drone) secara mandiri dari lepas pantai, sehingga mengurangi ketergantungan pada fasilitas pangkalan darat.
"Kemampuan ini sangat penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut yang luas, ribuan pulau, dan risiko bencana yang tinggi," lanjut Rico.
Selain fungsi pertahanan, KRI Sriwijaya-100 memegang peran sentral dalam skema Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kapal ini difungsikan sebagai rumah sakit terapung, pusat distribusi logistik skala besar, serta basis evakuasi medis darurat saat terjadi krisis kemanusiaan di wilayah terpencil.

(KRI Sriwijaya-100. (Foto: Bakom RI))
Proyek pengembangan dan pemeliharaan alutsista ini juga mengikutsertakan ekosistem industri pertahanan domestik. Keterlibatan tersebut bertujuan mentransfer teknologi serta meningkatkan kapabilitas teknis wirausaha pertahanan nasional, sejajar dengan peningkatan profesionalisme prajurit pelaut yang mengawakinya.
"Nama Sriwijaya mengingatkan kita pada sejarah besar Indonesia sebagai bangsa maritim. Hari ini, semangat itu kembali dihadirkan dalam kekuatan pertahanan modern," kata Rico.
Pemerintah menempatkan wilayah laut sebagai garda terdepan kedaulatan negara. Kehadiran KRI Sriwijaya-100 diharapkan mampu mengoptimalkan cakupan patroli maritim sekaligus mempercepat respons perlindungan masyarakat di daerah rawan bencana.










