TVRINews, Maluku Utara
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong peningkatan nilai tambah komoditas kelapa di Pulau Bacan, Maluku Utara, melalui pelatihan pengolahan kelapa menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Pelatihan yang melibatkan sekitar 20 perempuan di Desa Jojame tersebut memperkenalkan pengolahan kelapa menjadi kelapa parut kering yang dapat digunakan sebagai taburan roti dan kue. Inisiatif ini diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Selama ini, hasil panen kelapa di Desa Jojame umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti pembuatan santan dan minyak kelapa. Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengolahan agar potensi perkebunan kelapa dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.
Salah satu peserta, Mama Surti, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan bersama untuk meningkatkan penghasilan masyarakat.

"Masyarakat Jojame senang sekali karena su banyak hal baru yang torang pelajari bersama adik-adik Ekspedisi Patriot. Semoga ilmu yang dibagikan bisa torang kembangkan sama-sama, supaya hasil kelapa di desa kami bisa menambah penghasilan masyarakat. Semoga torang samua selalu sehat dan tetap baku jaga," ungkapnya dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Anggota TEP 1 UGM Bacan, Andarifka, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat. Selain praktik pengolahan kelapa parut kering, tim juga memberikan pendampingan mengenai pengemasan minyak kelapa untuk menjaga kualitas produk.
"Kami ingin menghadirkan program yang sederhana, sesuai kebutuhan masyarakat, tetapi bisa berkelanjutan. Harapannya, mama-mama dapat mengembangkan produk sendiri dan memperoleh peluang ekonomi yang lebih luas," ujar Andarifka.
Meski demikian, keterbatasan aksesibilitas masih menjadi tantangan dalam pengembangan usaha masyarakat Desa Jojame. Perjalanan dari Labuha menuju desa tersebut harus ditempuh melalui jalur laut dan dapat memakan waktu sekitar empat jam. Kondisi ini menjadi kendala bagi masyarakat dalam menjangkau pasar yang lebih luas.
Untuk mendukung keberlanjutan program, TEP 1 UGM Bacan berkoordinasi dengan Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Halmahera Selatan guna menjajaki peluang pemasaran produk di Labuha. Tim juga meninggalkan sejumlah peralatan agar masyarakat dapat melanjutkan praktik pengolahan secara mandiri.
Upaya tersebut sejalan dengan arahan Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara yang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah komoditas lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah.
"Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan," kata Iftitah, Senin, 12 Oktober 2026.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya sumber daya manusia yang unggul dan kompeten dalam mengelola kekayaan alam Indonesia.
"Kita bersyukur berada di sebuah negeri yang memiliki kekayaan alam. Tetapi, pada akhirnya, semua itu perlu dikelola oleh manusia yang unggul, oleh SDM yang memiliki kompetensi, tetapi juga punya integritas," ucap AHY, Kamis, 8 Oktober 2026.
Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan pentingnya mengolah komoditas di dalam negeri agar nilai tambahnya dapat dinikmati masyarakat Indonesia.
"Kita tidak mau hanya menjual buah kelapa. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia," tutur Prabowo saat peluncuran proyek hilirisasi nasional di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu, 29 April 2026.
Melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, TEP 1 UGM Bacan berharap masyarakat Desa Jojame dapat mengembangkan produk olahan kelapa secara berkelanjutan, memperluas pemasaran, dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Inisiatif ini menjadi salah satu upaya mendorong hilirisasi komoditas lokal melalui pengolahan hasil perkebunan di tingkat masyarakat, sehingga potensi kelapa di Pulau Bacan tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku, tetapi juga dapat menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.










