TVRINews, Konawe Selatan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memastikan pembangunan SMA Unggul Garuda Baru di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, terus berjalan sesuai target sehingga siap menerima angkatan pertama pada tahun ajaran 2026/2027. Hal tersebut, diungkapkan saat meninjau lokasi pembangunan.
Tak hanya itu, Brian juga meminta seluruh pekerjaan konstruksi dipercepat tanpa mengesampingkan aspek keselamatan. Menurutnya, ruang kelas menjadi prioritas utama agar kegiatan belajar mengajar dapat dimulai sesuai jadwal.
“Gedung sekolah menjadi fokus utama penyelesaian karena akan menjadi fasilitas pertama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Progres pembangunan gedung sekolah telah mencapai sekitar 87,58 persen,” kata Brian, kutip Jumat, 3 Juli 2026.
Secara keseluruhan, lanjutnya progres pembangunan ditargetkan mencapai sekitar 90 persen pada Juli 2026. Selain gedung utama, pemerintah juga mempercepat penyelesaian fasilitas pendukung, seperti asrama siswa, rumah dinas guru, kantin, dan dapur.
Untuk menjamin keamanan saat sekolah mulai beroperasi, Brian mengatakan jika pemerintah telah menyiapkan skema pemisahan antara area pembelajaran dan lokasi konstruksi apabila masih terdapat pekerjaan yang belum rampung.
Di mana, jalur akses khusus dan pembatas kawasan akan dipasang guna memastikan aktivitas siswa tidak terganggu.
Sebanyak 307 siswa dari berbagai daerah di Indonesia telah dinyatakan lolos seleksi sebagai angkatan pertama SMA Unggul Garuda Baru Konawe Selatan. Mereka dijadwalkan memasuki asrama pada 16–19 Juli 2026, sedangkan kegiatan belajar mengajar akan dimulai pada 20 Juli 2026.
Brian mengatakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus melakukan pemantauan berkala agar seluruh fasilitas siap digunakan sesuai jadwal dan memberikan lingkungan belajar yang aman serta nyaman bagi para siswa.
SMA Unggul Garuda Baru Konawe Selatan merupakan salah satu dari empat sekolah unggulan yang sedang dibangun pemerintah. Tiga sekolah lainnya berada di Bangka Belitung, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan berkualitas di berbagai daerah.










