TVRINews, Jakarta
Kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang anak bernama Al-Jabbar (Al). Di usia yang telah menginjak 12 tahun, ia akhirnya bisa merasakan bangku sekolah seperti anak-anak pada umumnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Al-Jabbar merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat bersama ratusan anak kurang beruntung lainnya, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit.
Gus Ipul, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa Al bahkan berani menyampaikan langsung kondisinya kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat berkunjung ke Istana Negara beberapa waktu lalu.
"Ini salah satu calon siswa Sekolah Rakyat dari Duren Sawit, enggak jauh dari sini, yang kemarin angkat tangan dan menyampaikan langsung kepada Pak Seskab. Secara spontan dia menyatakan nama saya Al-Jabbar, panggilannya Al. Saya usia 12 tahun, tapi saya belum pernah sekolah," ungkap Gus Ipul dalam keterangan yang diterima, Kamis 7 Mei 2026.
Al merupakan anak dari seorang ibu tunggal dan memiliki seorang adik. Kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit setelah ayahnya meninggal dunia.
"Ayahnya sudah meninggal, status rumahnya juga masih menumpang dan ditemukan pada saat di lampu merah. Dia cerita juga di tengah-tengah dia yang belum pernah sekolah, dia bawa adiknya dan adiknya mau hanya sekolah PAUD, setelah itu dia enggak mau sekolah juga. Padahal Al ingin adiknya bisa sekolah," kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin atau yang berada di kelompok desil 1 dan 2. Program ini menjadi langkah strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Menurut Gus Ipul, saat pertama kali dimulai pada 2025, Sekolah Rakyat telah menampung lebih dari 15 ribu siswa dengan kondisi sosial ekonomi yang beragam, namun mayoritas berada di bawah garis kemiskinan.
"Pertama, 60% orang tua yang bekerja sebagai guru atau penagih harian. 67% orang tua berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah. 65% keluarga memiliki tanggungan di atasnya," jelasnya.
Berdasarkan data riwayat pendidikan, tercatat ada 454 siswa yang tidak atau belum pernah sekolah sama sekali. Selain itu, terdapat 298 siswa yang putus sekolah, dan sebagian di antaranya bahkan sudah harus bekerja demi mencari nafkah.
"Di antara mereka banyak yang hidup bersama orang tua tunggal. Sebagian lagi mereka mengalami kekerasan," pungkasnya.
Pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat dapat mencapai 46 ribu orang sepanjang tahun ini. Angka tersebut diharapkan terus meningkat hingga mencapai 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028 mendatang.










