TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membekali guru dan tenaga kependidikan dengan pengetahuan serta keterampilan dalam menghadapi bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan pascabencana.
Upaya ini dilakukan melalui pelatihan tatap muka bagi guru dan tenaga kependidikan di empat provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan tersebut melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen dalam rangka memperingati Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana.
Pelatihan mencakup dua materi utama, yaitu Kesiapsiagaan Bencana bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) serta Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK.
Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Materi meliputi mitigasi, prosedur keselamatan, hingga pendampingan psikososial bagi warga sekolah yang terdampak bencana.
Penyusunan materi pelatihan juga melibatkan mitra, seperti Save the Children dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), untuk mengembangkan modul pembelajaran yang dapat diterapkan di lingkungan satuan pendidikan.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, mengatakan kesadaran terhadap risiko bencana perlu menjadi bagian dari kompetensi guru. Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan pembiasaan perilaku aman di sekolah.

“Guru perlu memiliki kesadaran bahwa risiko bencana dapat terjadi kapan saja dan berdampak pada keselamatan murid serta keberlangsungan pembelajaran. Karena itu, guru perlu memahami langkah mitigasi dan kesiapsiagaan, mampu bertindak dengan tenang dan tepat dalam situasi darurat, serta memberikan pendampingan sesuai kebutuhan murid. Membangun guru yang sadar bencana merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan satuan pendidikan yang aman dan tangguh,”ujar Nunuk dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui rilis resmi Kemendikdasmen, Senin, 19 Oktober 2026.
Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF), Saiful Bari, menilai guru memiliki peran strategis dalam membangun kesiapsiagaan bencana karena berinteraksi langsung dengan murid.
Ia menuturkan, pengetahuan dan ketenangan guru saat menghadapi situasi darurat dapat membantu murid memahami tindakan yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan diri.
“Guru yang tangguh bukan hanya memahami prosedur keselamatan, tetapi juga mampu bersikap tenang, responsif, dan mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini dengan melibatkan seluruh warga sekolah serta memperhatikan karakteristik dan kebutuhan setiap murid, termasuk murid yang membutuhkan pendampingan khusus,”jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan telah mengembangkan Modul Kesiapsiagaan Bencana dan Modul Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK.
Kedua modul tersebut menjadi sumber pembelajaran bagi guru dan tenaga kependidikan untuk memahami langkah penanganan bencana serta menerapkannya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
Dari aspek mitigasi, Rina Utami dari Save the Children menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengenali potensi bencana. Sekolah juga perlu memastikan seluruh warga sekolah memahami dan mampu menjalankan prosedur keselamatan ketika keadaan darurat terjadi.
“Kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga harus disertai pemahaman tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dan warga sekolah. Guru perlu memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, serta prosedur keselamatan dipahami oleh seluruh warga sekolah dan dilatih secara berkala. Kesiapsiagaan juga perlu memperhatikan kebutuhan setiap murid, termasuk mereka yang memerlukan pendampingan khusus, agar tidak ada yang tertinggal ketika situasi darurat terjadi,”ungkap Rina.
Selain menyiapkan jalur evakuasi dan titik kumpul, sekolah perlu menyediakan perlengkapan darurat berupa tas siaga bencana. Perlengkapan tersebut dapat berisi air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, alat penerangan, sarana komunikasi, dan dokumen penting.
Seluruh perlengkapan juga perlu diperiksa secara berkala agar dapat digunakan ketika dibutuhkan. Di samping aspek keselamatan fisik, kesiapsiagaan sekolah mencakup pemulihan kondisi psikologis warga sekolah setelah bencana.
Yuria Ekalitani dari Himpunan Psikologi Indonesia menekankan pentingnya Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi murid maupun guru yang terdampak bencana.
“Guru bukan hanya sebagai penolong, tetapi juga sebagai individu yang membutuhkan pertolongan. Layanan Dukungan Psikososial perlu memastikan bahwa guru yang mendampingi murid juga mendapatkan kesempatan untuk didampingi. Guru yang terdampak bencana perlu memperoleh dukungan dan ruang untuk pulih agar dapat kembali menjalankan perannya dengan baik,”kata Yuria.
Pengalaman mengikuti pelatihan juga dirasakan Nur Fajar Amalia, guru SMK Negeri 1 Meulaboh, Aceh. Ia mengatakan, pelatihan tersebut membantu pihak sekolah memahami pentingnya menyusun rencana tindakan yang jelas dalam menghadapi bencana.
“Setelah mengikuti pelatihan, kami semakin memahami bahwa mengetahui risiko bencana saja belum cukup. Kami juga harus tahu apa yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Langkah pertama yang kami lakukan di sekolah adalah membentuk tim siaga bencana dengan melibatkan kepala sekolah, guru, komite sekolah, murid, dan wali murid,”ungkap Nur Fajar.
Hal serupa disampaikan Linggana Tesya, guru SMAN 1 Candung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia menjelaskan, potensi gempa bumi dan erupsi gunung api di wilayahnya menjadi alasan bagi sekolah untuk meningkatkan edukasi kebencanaan dan mempersiapkan guru sebelum memberikan pendampingan kepada murid.
“Bagi kami, penting untuk membekali diri terlebih dahulu sebelum melakukan pendampingan kepada murid. Pemahaman mengenai risiko gempa bumi dan erupsi gunung api membantu guru mempersiapkan langkah yang tepat serta memberikan informasi yang dibutuhkan murid untuk menjaga keselamatan,”ujar Linggana.
Melalui pelatihan dan pengembangan modul pembelajaran tersebut, Kemendikdasmen berupaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan. Guru diharapkan mampu mengambil tindakan yang tepat dalam situasi darurat, melindungi keselamatan murid, memberikan dukungan kepada warga sekolah yang terdampak, serta menjaga keberlangsungan pembelajaran selama proses pemulihan pascabencana.










