TVRINews, Jakarta
Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto menyoroti adanya dugaan pemerasan yang melibatkan sejumlah pengusaha lokal di Kota Cilegon, Banten.
Dimana, insiden tersebut mencuat ke publik setelah beredarnya video di media sosial yang menunjukkan sekelompok pria berseragam putih dan mengenakan helm proyek mengaku sebagai perwakilan Kadin Cilegon.
Tak hanya itu, nampak mereka mendatangi kontraktor asal Tiongkok, Chengda Engineering (CEE), dan meminta proyek senilai Rp5 triliun tanpa melalui mekanisme tender resmi.
Merespons hal itu, Presiden Prabowo langsung menginstruksikan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM untuk memanggil pihak-pihak terkait guna mencari penyelesaian.
Baca Juga: Pencegahan Narkoba di Sekolah: SMA Negeri 1 Na IX-X Lakukan Tes Urine Dini
Kemudian, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu pun menggelar pertemuan pada Rabu, 14 Mei 2025 kemarin dengan Gubernur Banten Andra Soni, Wali Kota Cilegon Robinsar, Kapolda Banten Irjen Suyudi Ario Seto, perwakilan Chandra Asri, dan Kadin Indonesia.
"Pertemuan ini atas arahan Presiden dan Menteri Rosan Roeslani untuk menengahi persoalan yang bisa menghambat investasi," ujar Todotua usai pertemuan di Jakarta.
Oleh karenanya, pemerintah menyayangkan adanya praktik semacam ini di tengah upaya mendorong investasi strategis.
Selain itu, Todotua menegaskan bahwa dugaan pelanggaran hukum akan ditindaklanjuti oleh Polda Banten. Jika terbukti, pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Pabrik kimia CA-EDC sendiri merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diatur dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029, yang diteken Presiden Prabowo pada 10 Februari lalu.
Proyek ini dijalankan oleh pihak swasta dan dinilai penting untuk mendorong hilirisasi industri kimia di Indonesia.










