TVRINews, Teluk Bintuni
Transformasi pendidikan tidak hanya dilakukan melalui pembangunan ruang kelas dan sarana fisik, tetapi juga lewat pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan akses pembelajaran berkualitas hingga ke wilayah terpencil. Hal itu menjadi fokus kunjungan kerja Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, di Kabupaten Teluk Bintuni, Jumat, 29 Mei 2026.
Program tersebut sejalan dengan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMA Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran. Melalui program digitalisasi pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat layanan pendidikan berbasis teknologi agar lebih merata dan relevan dengan perkembangan zaman.
Di Teluk Bintuni, penguatan program dilakukan melalui penyaluran perangkat pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP), laptop, serta media penyimpanan konten pembelajaran ke sejumlah satuan pendidikan.
Dalam kunjungannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa teknologi menjadi salah satu kunci penting untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Pada 2025, Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan IFP kepada 167 satuan pendidikan di Teluk Bintuni, terdiri dari 85 SD, 36 SMP, 27 PAUD, 18 SMA, dan 1 SMK.
Jumlah tersebut menjadikan Teluk Bintuni sebagai salah satu wilayah penerima bantuan digitalisasi pendidikan terbesar di Papua Barat.
Menteri Mu’ti juga menyampaikan rencana penguatan program pada 2026 mendatang. Jika sebelumnya setiap sekolah menerima satu perangkat IFP, tahun depan pemerintah akan menambah tiga perangkat lagi untuk masing-masing sekolah.
“Tahun lalu, program digitalisasi pendidikan dilakukan melalui bantuan satu perangkat IFP untuk setiap satuan pendidikan. Insyaallah pada tahun 2026, setiap sekolah akan mendapatkan tambahan tiga IFP sehingga masing-masing sekolah nantinya memiliki total empat perangkat pendukung pembelajaran digital,” ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 Mei 2026.
Ia menjelaskan, penguatan digitalisasi pendidikan tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat, tetapi juga mencakup pelatihan guru, bantuan laptop, paket pembelajaran, hingga peningkatan infrastruktur pendukung agar pemanfaatan teknologi berjalan optimal.
“Untuk mendukung kesiapan daya, Kemendikdasmen bekerja sama dengan PT PLN dalam penambahan daya listrik sekolah secara gratis. Langkah strategis ini dilakukan agar sekolah-sekolah di daerah dapat memanfaatkan teknologi pembelajaran secara maksimal tanpa terkendala keterbatasan infrastruktur dasar,” tambahnya.
Menurut Abdul Mu’ti, keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, khususnya guru dan kepala sekolah. Karena itu, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Papua Barat juga menjalankan program pendampingan berupa sosialisasi, mentoring, dan coaching kepada sekolah penerima bantuan.
Sepanjang 2025, sebanyak 20 satuan pendidikan di Teluk Bintuni mendapatkan pendampingan intensif yang terdiri dari lima PAUD, lima SD, lima SMP, dan lima SMA. Program tersebut bertujuan memperkuat kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.
Selain itu, pemerintah juga menghadirkan mentor daerah untuk mendampingi sekolah-sekolah penerima bantuan agar transformasi digital benar-benar berdampak terhadap kualitas belajar di ruang kelas.
Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manimbuy, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap penguatan pendidikan di daerahnya. Menurutnya, bantuan perangkat pembelajaran digital memberikan perubahan nyata bagi sekolah dan membuka peluang pembelajaran yang lebih interaktif serta modern.
Program digitalisasi pendidikan di Teluk Bintuni dinilai menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menghadirkan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak Papua. Kehadiran teknologi pembelajaran diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif sehingga siswa di Teluk Bintuni memiliki kesempatan yang setara dengan pelajar di daerah lain di Indonesia.










