TVRINews, Jakarta
Kementerian Transmigrasi mempelajari pengalaman pembangunan Tiongkok sebagai bahan pembanding dalam mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia. Pembelajaran mencakup pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan ekonomi kawasan.
Pembahasan tersebut menjadi fokus Seminar on China’s Development Model yang digelar di Grand Makarti, Kementerian Transmigrasi, Jakarta, 11–12 Agustus 2026.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan, pengalaman Tiongkok dalam membangun berbagai wilayah dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia, khususnya dalam pengembangan kawasan transmigrasi baru.
Meski demikian, menurutnya, penerapan pengalaman tersebut tidak dapat dilakukan secara langsung karena harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan karakteristik wilayah di Indonesia.
“Model pembangunan di Tiongkok bisa menjadi inspirasi dalam membangun kawasan transmigrasi. Meski demikian, meniru model pembangunan Tiongkok harus tetap disesuaikan dengan kondisi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat setempat sehingga di lapangan memberikan banyak perspektif dan alternatif terhadap model-model yang akan dikembangkan,”kata Viva Yoga dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui rilis Kementrans, Jumat, 11 September 2026.

Seminar tersebut merupakan hasil kerja sama Kementerian Transmigrasi dengan Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, serta Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok.
Sejumlah profesor dan akademisi ISSCAD dan Peking University hadir untuk berbagi pengalaman mengenai pembangunan, reformasi ekonomi, tata kelola pemerintahan, sistem pembangunan, serta pengembangan kapasitas.
Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi Edy Gunawan menilai pengalaman pembangunan Tiongkok penting dipelajari untuk memperluas perspektif dan pilihan pendekatan dalam pembangunan kawasan transmigrasi.
Ia menekankan bahwa setiap praktik pembangunan perlu dikaji secara kritis dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
“Bagi kita, yang penting bukan meniru model pembangunan Tiongkok secara langsung, tetapi mempelajari prinsip, pengalaman, dan praktik yang telah terbukti, kemudian mengambil hal-hal yang relevan untuk disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan, potensi, dan kapasitas Indonesia, khususnya dalam membangun kawasan transmigrasi yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan,”ungkap Edy.
Salah satu materi seminar membahas reformasi sistem jaminan kesehatan di Tiongkok. Prof. Lei Xiaoyan menjelaskan perkembangan skema jaminan kesehatan bagi pekerja perkotaan, masyarakat pedesaan, serta penduduk perkotaan yang tidak bekerja hingga proses integrasi skema tersebut pada 2016.
Pembahasan ini memberikan gambaran mengenai pentingnya perluasan akses layanan dasar, penguatan kelembagaan, pengendalian biaya, serta penyesuaian kebijakan dengan kebutuhan masyarakat.
Seminar juga mengulas pengalaman perusahaan Tiongkok melakukan ekspansi ke berbagai negara melalui materi Chinese Companies Going Global: Practice and Policy yang disampaikan Prof. Deng Ziliang.
Materi tersebut mengaitkan investasi dengan pengembangan industri, penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, serta peluang pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi.
Pada hari kedua, Prof. Xu Huayu membahas pengalaman Tiongkok meningkatkan kesehatan masyarakat di tengah keterbatasan sumber daya. Salah satu pendekatan yang dipelajari adalah Keep–Upgrade–Integrate, yakni mempertahankan sumber daya yang tersedia, meningkatkan kapasitas melalui pelatihan, kemudian mengintegrasikannya ke dalam sistem yang lebih baik.
Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi pembangunan kawasan transmigrasi, terutama dalam pemanfaatan sumber daya lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pemberdayaan berbasis komunitas.
Pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya dapat dihadapi melalui pendekatan yang pragmatis, adaptif, dan eksperimental dengan mempertimbangkan kondisi setiap wilayah.
Selain membahas pembangunan, seminar juga memperkenalkan ISSCAD sebagai institusi pendidikan dan pengembangan kapasitas yang berfokus pada kerja sama pembangunan dengan negara-negara berkembang.
Program pendidikan dan pelatihan ISSCAD dinilai dapat menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan kompetensi aparatur, khususnya dalam bidang kebijakan publik, pembangunan, tata kelola, dan kerja sama pembangunan.










