TVRINews, Jakarta
Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih dalam penanganan. Memasuki hari kelima, petugas terus melakukan pemadaman sekaligus pendinginan untuk mencegah api kembali muncul dari dalam tumpukan sampah.
Penanganan dilakukan melalui jalur darat dan udara. TNI Angkatan Udara sebelumnya mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing di sejumlah titik yang sulit dijangkau petugas dari darat.
Komandan Lanud Atang Sendjaja Marsma TNI A. F. Picaulima mengatakan, operasi water bombing pada hari keempat dilakukan sebanyak lima sorti.
Setiap penerbangan membawa sekitar tiga ton air. Dalam satu hari, total air yang dijatuhkan ke titik kebakaran mencapai sekitar 15 ton.
“Kemarin kami melaksanakan lima sorti. Setiap sorti membawa kurang lebih tiga ton air, jadi total sekitar 15 ton air yang dijatuhkan ke titik api,” ujar Picaulima, Jumat, 11 September 2026.
Pengerahan helikopter dilakukan untuk membantu memadamkan titik api yang tidak mudah dijangkau melalui jalur darat. Air diarahkan langsung ke area yang masih terbakar.
“Kami fokuskan penyiraman ke titik-titik yang sulit dijangkau dari darat, sehingga pemadaman bisa dilakukan lebih efektif,” jelasnya.
Namun, operasi udara tidak dapat dilakukan sepanjang waktu. Kondisi cuaca serta keterbatasan pencahayaan menjadi kendala dalam pelaksanaan water bombing.
“Saat pencahayaan mulai berkurang, pengambilan air menjadi sulit dilakukan karena sumber air tidak terlihat dengan baik. Kondisi itu membuat penerbangan harus dihentikan,” ungkap Picaulima.
Lanud Atang Sendjaja menyatakan tetap siap mengerahkan helikopter apabila kembali dibutuhkan untuk mendukung penanganan kebakaran di TPA Galuga.
Sementara dari jalur darat, petugas menghadapi tantangan berupa bara yang masih tersimpan di bagian dalam tumpukan sampah.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor Yudi Santosa menjelaskan, api yang bertahan cukup lama dapat masuk ke dalam tumpukan sampah dan berubah menjadi bara.
“Api yang bertahan lama bisa masuk ke dalam tumpukan dan menjadi bara. Ketika sampah dibongkar, bara itu bisa kembali terbuka dan memunculkan api,” kata Yudi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, alat berat dikerahkan guna membongkar tumpukan sampah. Petugas kemudian melakukan penyiraman dan pendinginan pada bagian yang masih menyimpan bara.
“Karena itu tumpukan harus dibongkar. Kami perlu membuka bagian dalam supaya bara bisa ditemukan dan langsung dilakukan pendinginan,” ujarnya.
Pengaturan lalu lintas di sekitar TPA juga diperkuat agar mobil pemadam dapat bergerak tanpa hambatan.
“Kami juga meminta akses menuju lokasi dijaga agar kendaraan pemadam bisa bergerak cepat dan tidak terhambat,” jelas Yudi.
Selain itu, petugas memperpanjang selang pemadam menuju area yang sulit dijangkau. Sejumlah titik juga disiapkan parit dan saluran air untuk menghambat kemungkinan api kembali merambat.
“Di titik yang sulit dijangkau, selang kami perpanjang. Kami juga membuat parit dan saluran air di lokasi tertentu untuk mencegah api kembali menjalar,” pungkas Yudi.
Hingga memasuki hari kelima, proses pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan untuk memastikan titik api dan bara di dalam tumpukan sampah benar-benar dapat dikendalikan.










