TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy mengatakan jika Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menaruh perhatian yang sangat besar terhadap ekonomi kreatif sebagai sumber inklusi, sebagai sumber lapangan kerja. Hal ini, diungkapkan saat acara Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia ke-5 (World Conference on Creative Economy / WCCE) di Grand Indonesia, Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026 hari ini.
"Atas nama Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, saya menyampaikan salam hangat dan harapan terbaik kepada seluruh peserta. Bapak Presiden menaruh perhatian yang sangat besar terhadap ekonomi kreatif sebagai sumber inklusi, sebagai sumber lapangan kerja, dan sumber peluang baru bagi masyarakat kita,” kata dia
Lebih lanjut, ia menuturkan jika pada delapan tahun lalu Indonesia telah memprakarsai konfrensi WCCE di Bali dengan keyakinan yang sederhana. Di mana, sektor kreatif layak mendapatkan tempat yang lebih besar dalam ekonomi global.
“Sejak saat itu, konferensi ini telah berkelana ke Dubai, kembali ke Bali, dan kemudian berlanjut ke Aspen, seperti yang juga disebutkan oleh tuan rumah konferensi, yaitu Bali Creative,” ungkapnya
"Dan hari ini, acara ini kembali ke Jakarta, dan visinya menjadi jauh lebih relevan dari sebelumnya,” terusnya
Menurut Rachmat, pengembangan ekonomi kreatif semakin relevan di tengah ketegangan geopolitik yang mengganggu perdagangan internasional dan menciptakan ketidakpastian investasi. Kondisi tersebut mendorong perlunya sumber pertumbuhan ekonomi baru yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
“Dunia membutuhkan mesin pertumbuhan baru yang tangguh, mesin baru yang lebih inklusif, dan mesin baru yang lebih berkelanjutan. Ekonomi kreatif menawarkan peluang yang tepat seperti itu,” ujarnya.
Rachmat mengutip data Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) yang menunjukkan nilai ekspor global jasa kreatif mencapai 1,7 triliun dolar AS pada 2024. Sementara itu, ekspor produk kreatif tercatat sekitar 709 miliar dolar AS.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi kreatif dalam perdagangan internasional. Di balik nilai ekspor tersebut, terdapat jutaan pelaku industri kreatif yang mengubah ide, bakat, dan inovasi menjadi peluang ekonomi.
Ia menilai ekonomi kreatif memiliki keunggulan karena tidak sepenuhnya bergantung pada modal finansial. Musisi dapat menjangkau pasar global, desainer muda dapat membangun usaha melalui perangkat digital, dan perajin dapat membawa produk berbasis tradisi lokal ke pasar internasional.
Karena itu, sektor ekonomi kreatif dinilai mampu membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda, perempuan, serta pelaku usaha kecil. Namun, potensi tersebut perlu didukung akses teknologi, pembiayaan, pengembangan talenta, serta perlindungan kekayaan intelektual agar para kreator memperoleh manfaat ekonomi yang adil.
Bagi Indonesia, Rachmat menegaskan ekonomi kreatif bukan sekadar sektor pelengkap, melainkan bagian integral dari strategi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam rencana pembangunan jangka menengah, pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif meningkat hingga lebih dari 8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2029.
Kinerja sektor tersebut juga menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, ekonomi kreatif Indonesia tercatat menyerap investasi sekitar Rp183 triliun, menghasilkan ekspor hampir 32 miliar dolar AS, serta menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 27 juta orang.
“Ini bukan sekadar statistik ekonomi. Ini merepresentasikan mata pencaharian, peluang, dan mewakili banyak aspirasi,” ungkapnya.
Rachmat menambahkan, tantangan berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah produk kreatif Indonesia agar mampu bersaing di pasar global. Menurutnya, prinsip hilirisasi yang selama ini diterapkan pada sumber daya alam juga perlu diperluas ke sumber daya intelektual.
Berbagai karya, mulai dari cerita, desain, film, hingga gim, tidak hanya perlu diciptakan dan dipasarkan, tetapi juga harus dikembangkan menjadi aset ekonomi yang memberikan nilai jangka panjang serta imbal hasil yang adil bagi penciptanya.
Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah telah mengesahkan Masterplan Ekonomi Kreatif Nasional sebagai landasan penguatan ekosistem melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam forum WCCE 2026, Rachmat juga memperkenalkan visi Jakarta on Creative Economy yang dikembangkan bersama mitra internasional. Visi tersebut mencakup empat prioritas, yakni transformasi digital dan kecerdasan buatan, keberlanjutan dan ekonomi sirkular, perlindungan kekayaan intelektual bagi kreator, serta pengembangan ekosistem kreatif yang inklusif.
Ia menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk memastikan perkembangan teknologi memberikan manfaat bagi para pelaku ekonomi kreatif, bukan justru membuat mereka tertinggal.
Indonesia, lanjutnya, juga berkomitmen mendorong ekonomi kreatif menjadi bagian berkelanjutan dari agenda pembangunan global melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Upaya tersebut melanjutkan inisiatif Indonesia yang turut mendorong penetapan 2021 sebagai Tahun Internasional Ekonomi Kreatif untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Rachmat menyebut berbagai deklarasi dan resolusi internasional harus diterjemahkan menjadi hasil nyata, mulai dari peningkatan investasi, penguatan perusahaan kreatif, penciptaan lapangan kerja berkualitas, hingga perluasan kesempatan bagi masyarakat.
“Modal finansial terkonsentrasi di tempat tertentu, tetapi kreativitas ada di setiap masyarakat. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa bakat, di mana pun ia berada, memiliki kesempatan untuk berkembang,” tegasnya.
Ia berharap WCCE 2026 di Jakarta dapat memperkuat kemitraan internasional sekaligus mendorong terciptanya peluang ekonomi yang lebih luas bagi para pelaku industri kreatif.
“Dengan semangat tersebut, saya dengan bangga menyatakan bahwa Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia ke-5 tahun 2026 secara resmi dibuka,” pungkas Rachmat.










