TVRINews, Jakarta
BSN dorong penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) sektor ekonomi biru untuk tingkatkan daya saing dan target ekspor perikanan global.
Sektor ekonomi biru menjadi salah satu prioritas nasional yang berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan nilai tambah sumber daya kelautan dan perikanan, serta memperkuat daya saing produk Indonesia di kancah global.
Guna mendukung optimalisasi sektor tersebut, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Standardisasi Sektor Ekonomi Biru dalam Mendukung Daya Saing dan Pembangunan Berkelanjutan” di Kantor BSN, Jakarta.
Direktur Sistem dan Harmonisasi Pengembangan Standar BSN, Triningsih Herlinawati, menegaskan bahwa keberadaan SNI sangat krusial untuk mengatur produk, proses, maupun jasa guna menopang berbagai subsektor ekonomi biru di tanah air.
“Optimalisasi sektor ekonomi biru di Indonesia, seperti perikanan dan akuakultur, pariwisata bahari, energi terbarukan laut, transportasi dan logistik laut, bioteknologi kelautan, manufaktur berbasis kelautan, hingga jasa lingkungan laut, perlu didukung dengan penerapan SNI,” ungkap Triningsih, dikutip Sabtu, 8 Agustus 2026.
Berdasarkan data BSN hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 9.942 SNI aktif telah diterbitkan, di mana 2.987 di antaranya merupakan hasil adopsi identik dari ISO. Khusus untuk sektor ekonomi biru, saat ini telah tersedia sebanyak 10 SNI.
Arah Kebijakan dan Target Ekspor Perikanan Global
Sementara itu, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas, Mohamad Rahmat Mulianda, memaparkan arah kebijakan ekonomi biru nasional yang memandang laut sebagai modal alam (natural capital), sumber inovasi, mata pencaharian pesisir, hingga peluang bisnis.
Berdasarkan data kinerja, sektor kelautan dan perikanan Indonesia mencatatkan angka yang masif, di antaranya Produksi perikanan tangkap: 7,85 juta ton; Produksi akuakultur ikan: 6,76 juta ton; Produksi rumput laut: 11,65 juta ton; Nilai ekspor perikanan: USD 6,27 miliar; Pertumbuhan PDB perikanan: 4,95%; serta Produksi garam: 1,04 juta ton.
“Indonesia ditargetkan masuk dalam 10 besar dunia untuk nilai ekspor perikanan. Capaian ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam mewujudkan standar mutu yang konsisten dan *traceability* (ketelusuran) produk yang jelas agar dapat diterima oleh negara tujuan ekspor,” tegas Rahmat.
FGD ini turut menghadirkan Sekretaris Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Anna Maria Agustina, serta perwakilan Plt. Kepala Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Romika, guna memperkuat sinergi industri dan riset dalam menyusun prioritas perumusan standar ke depan.









