TVRINews, Bogor
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan pentingnya peran pendidik dalam menghadapi transformasi digital di dunia pendidikan. Hal itu disampaikannya saat membuka MODULAR Summit 2026 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 20 Agustus 2026.
Program MODULAR atau Membuat Konten Digital untuk Pembelajaran SMA 2026 menjadi wadah bagi para pendidik untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menghasilkan konten pembelajaran digital yang kreatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan murid.
Atip menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau AI membuat dunia pendidikan harus terus beradaptasi. Terlebih, peserta didik di jenjang SMA saat ini merupakan generasi yang sangat dekat dengan teknologi.
“Transformasi digital di dunia pendidikan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mutlak, keniscayaan agar kualitas pembelajaran nasional tetap berkualitas, relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujar Atip, dalam keterangan tertulis yang dikutip, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Atip, digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat teknologi di ruang kelas. Pemanfaatan teknologi harus dibarengi perubahan cara mengajar agar proses pembelajaran semakin bermakna dan berpusat pada murid.
“Hakikat digitalisasi bukan sebatas menghadirkan perangkat teknologi atau memindahkan teks buku ke layar monitor. Melainkan mengubah paradigma mengajar agar lebih bermakna, kontekstual, dan berpusat pada murid,” tegasnya.
Pemerintah sendiri terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, salah satunya melalui penyediaan sarana seperti Papan Interaktif Digital atau PID.
Meski demikian, Atip mengingatkan teknologi tidak akan menggantikan peran guru. Kehadiran AI dan berbagai perangkat digital justru harus ditempatkan sebagai alat bantu bagi pendidik.
“Pendidik tetap menjadi aktor utama yang tak tergantikan. Posisi pendidik sebagai educator itu, dia tidak tergantikan dengan teknologi,” katanya.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Atas Yuli Haryanto menyampaikan, Program MODULAR SMA 2026 diikuti sebanyak 4.025 peserta. Mereka mengikuti lima sesi pendampingan untuk mengembangkan kemampuan dalam membuat berbagai konten pembelajaran digital.
Dari proses pendampingan dan seleksi tersebut, sebanyak 692 peserta berhasil menghasilkan 2.052 konten pembelajaran digital. Sebanyak 874 konten kemudian lolos ke tahap penilaian hingga akhirnya terpilih 200 peserta untuk mengikuti MODULAR Summit 2026.
Pada tahap finalisasi, peserta terpilih menghasilkan 362 konten yang nantinya akan diunggah dan dimanfaatkan melalui Ruang Murid.
MODULAR Summit 2026 sendiri diikuti 200 peserta yang terdiri dari 100 peserta secara luring dan 100 peserta secara daring. Kegiatan ini juga melibatkan fasilitator, kurator, validator, praktisi pendidikan, serta 11 mitra pembelajaran.
Atip berharap karya yang dihasilkan para peserta tidak berhenti setelah kegiatan summit berakhir. Para pendidik yang telah mengikuti program tersebut diminta menjadi penggerak dan menularkan pengetahuan kepada rekan sejawat di sekolah maupun wilayah masing-masing.
“Sekembalinya dari summit ini, para peserta diemban mandat untuk menjadi inisiator yang aktif mengimbaskan ilmu dan keterampilannya pada pendidik lainnya, pada rekan sejawat, pada para kolega,” ucap Atip.
Ia juga menyoroti perkembangan AI yang semakin cepat. Menurutnya, pendidik maupun murid perlu memiliki kemampuan untuk memahami, menilai, serta menggunakan teknologi secara bijak dan tepat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga dinilai membuka peluang baru, termasuk munculnya jenis pekerjaan yang sebelumnya belum ada. Salah satunya adalah peluang bagi pendidik untuk berperan sebagai kreator konten pembelajaran digital.
Melalui MODULAR Summit 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong terbentuknya ekosistem pembelajaran digital yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga ditopang kualitas konten dan kapasitas pendidik.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BBPMP/BPMP, satuan pendidikan, dan para mitra pembelajaran diharapkan dapat memperluas pemanfaatan konten digital sehingga memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di sekolah.










