TVRINews, Jakarta
Aktivitas gempa susulan pasca-gempa bumi utama berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tergolong tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.258 kejadian gempa susulan hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sementara itu, 31 kejadian memiliki magnitudo di atas 5,0.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, rangkaian gempa susulan diperkirakan masih akan berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan. Menurutnya, pola aktivitas gempa susulan pada fase awal masih cukup kompleks dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan.
"Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan," ujar Wijayanto dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 21 Agustus 2026.
BMKG mencatat, pada hari pertama setelah gempa utama terdapat 704 kejadian gempa. Jumlah tersebut meningkat menjadi 746 kejadian pada hari kedua.
Aktivitas kemudian tercatat 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima. Namun, pada hari keenam, aktivitas kembali meningkat menjadi 802 kejadian dalam kurun waktu 24 jam.
Sejumlah gempa susulan juga dirasakan cukup kuat oleh masyarakat. BMKG mencatat gempa berkekuatan M5,6 pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB, kemudian gempa M5,8 pada 20 Agustus pukul 05.45 WIB.
Selanjutnya, gempa M5,8 kembali terjadi pada 20 Agustus pukul 09.47 WIB. Guncangan tersebut menyebabkan kerusakan susulan pada sejumlah bangunan dan jembatan yang sebelumnya telah terdampak gempa, serta memicu tanah longsor di sejumlah titik.
Berdasarkan hasil relokasi, BMKG menemukan bahwa gempa susulan tidak menyebar secara homogen. Aktivitas tersebut membentuk sejumlah klaster.
Klaster utama berada di sekitar zona sumber gempa M7,7 di wilayah utara Nagekeo dan membentang mengikuti arah Flores Back-arc Thrust. Sementara klaster lainnya muncul di bagian barat zona sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai.
Pergerakan aktivitas gempa juga terus berubah. Pada empat hari pertama, gempa susulan tersebar di berbagai klaster dari wilayah timur hingga barat.
Namun, memasuki hari kelima dan keenam, aktivitas seismik mulai bergeser dan lebih terkonsentrasi di klaster bagian barat. Di sisi lain, aktivitas pada klaster bagian timur mulai menurun secara bertahap.
BMKG terus melakukan pemantauan aktivitas gempa secara real-time selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan. Pemantauan dilakukan terhadap jumlah kejadian, magnitudo, distribusi sumber gempa, arah pergerakan aktivitas, hingga karakteristik sumber gempa.
BMKG juga mengimbau masyarakat terdampak agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa serta tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Untuk memastikan keterbukaan informasi, BMKG memperbarui data aktivitas gempa susulan secara rutin dua kali sehari, yakni pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB melalui kanal resmi BMKG.










