TVRINews, Jakarta
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara menjajaki peluang pengembangan industri pengolahan komoditas unggulan Indonesia bersama empat perusahaan Tiongkok di Beijing. Penjajakan tersebut mencakup pengembangan kacang hijau, rumput laut, teknologi pertanian, hingga pemanfaatan bioteknologi kelautan untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari kunjungan kerja Kementerian Transmigrasi ke Tiongkok pada 12–18 Oktober 2026. Kunjungan ini bertujuan menjajaki peluang investasi, transfer teknologi, pengembangan industri, serta perluasan akses pasar bagi produk unggulan dari kawasan transmigrasi.
Empat perusahaan yang ditemui yakni China National Township Enterprises Co., Ltd. (CNTEC), FAMSUN Group, Shenzhen DJI Innovations Co., Ltd. (DJI), dan Beijing Leili Marine Bioindustry Inc. Keempat perusahaan tersebut memiliki bidang usaha yang saling melengkapi, mulai dari perdagangan komoditas pertanian, teknologi pengolahan industri, mekanisasi pertanian, hingga pengembangan produk berbasis bioteknologi kelautan.
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan, kerja sama yang dijajaki harus memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia melalui peningkatan nilai tambah produksi dalam negeri, bukan hanya memperluas perdagangan bahan mentah.
"Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan,” ujar Iftitah dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 14 Oktober 2026.
Menurut Iftitah, kekayaan sumber daya alam Indonesia perlu didukung teknologi, investasi, pengembangan industri, dan akses pasar agar mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Karena itu, Kementerian Transmigrasi berupaya mengembangkan kawasan transmigrasi tidak hanya sebagai pusat produksi bahan baku, tetapi juga sebagai lokasi pertumbuhan industri pengolahan dan kegiatan ekonomi pendukung.
Salah satu peluang yang dibahas dalam pertemuan dengan CNTEC berkaitan dengan perdagangan kacang hijau dan rumput laut. Perusahaan yang tergabung dalam kelompok China National Agricultural Development Group tersebut memaparkan data kontrak perdagangan pada 2026 yang mencakup 7.900 ton kacang hijau senilai sekitar USD9,86 juta dan 6.100 ton rumput laut penghasil karagenan senilai sekitar USD9,73 juta.
Secara keseluruhan, kedua komoditas tersebut mencapai volume 14.000 ton dengan nilai kontrak sekitar USD19,59 juta. Nilai tersebut merupakan kontrak perdagangan yang dipaparkan CNTEC, bukan investasi baru ataupun kontrak yang ditandatangani dalam pertemuan dengan Kementerian Transmigrasi.
CNTEC juga menyampaikan minat untuk melanjutkan perdagangan sekaligus menjajaki komoditas pertanian Indonesia lainnya.
Informasi mengenai kebutuhan pasar tersebut menjadi peluang bagi Kementerian Transmigrasi untuk mengembangkan produksi, meningkatkan standar mutu, memperbaiki penanganan pascapanen, serta membangun rantai pasok komoditas dari kawasan transmigrasi. Dengan langkah tersebut, kebutuhan pasar diharapkan dapat terhubung dengan kapasitas produksi petani dan pelaku usaha lokal secara berkelanjutan.
Selain perdagangan komoditas, Kementerian Transmigrasi menjajaki kerja sama dengan FAMSUN Group, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi penyimpanan biji-bijian, logistik pertanian, industri pangan, pakan ternak, serta sistem pengolahan berbasis teknologi digital.
Dalam pertemuan tersebut, FAMSUN memaparkan pengalaman pengembangan proyek industri di Indonesia bersama sejumlah perusahaan, termasuk di sektor pakan dan pengolahan hasil pertanian. Penjajakan ini diarahkan untuk mengidentifikasi peluang pembangunan fasilitas pascapanen dan industri pengolahan yang sesuai dengan potensi komoditas unggulan kawasan transmigrasi.
Ketersediaan fasilitas pengeringan, penyimpanan, pengolahan, dan logistik yang memadai diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil produksi masyarakat, menekan kehilangan pascapanen, serta memperluas akses pasar.
Sementara itu, pembahasan dengan DJI berfokus pada pemanfaatan teknologi drone untuk meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk penyemprotan, penebaran benih dan pupuk, pemberian pakan akuakultur, hingga pengangkutan barang sesuai dengan jenis drone yang digunakan.
Kementerian Transmigrasi juga melihat peluang peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal melalui pelatihan operator dan teknisi drone. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan usaha baru bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Peluang pengembangan industri berbasis sumber daya kelautan turut dibahas bersama Beijing Leili Marine Bioindustry Inc. Perusahaan tersebut memperkenalkan berbagai produk turunan rumput laut yang dikembangkan melalui bioteknologi kelautan, termasuk biostimulan pertanian dan produk pendukung kesehatan tanah serta produktivitas tanaman.
Penjajakan ini membuka peluang pengolahan rumput laut Indonesia menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Namun, pengembangannya memerlukan kajian mengenai kesesuaian jenis dan mutu bahan baku, kepastian pasokan, teknologi pengolahan, serta kemitraan dengan produsen dan pelaku usaha lokal.
Kementerian Transmigrasi menilai pengembangan industri turunan rumput laut dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, mulai dari kegiatan budidaya dan perdagangan hingga pengolahan menjadi produk industri bernilai tambah.
Investasi Diharapkan Meningkatkan Pendapatan Masyarakat
Iftitah menegaskan, penjajakan kerja sama dengan dunia usaha perlu ditindaklanjuti melalui identifikasi proyek yang memiliki prospek bisnis dan manfaat ekonomi yang terukur.
Setiap peluang kerja sama akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kesiapan lokasi, potensi komoditas, kebutuhan bahan baku, ketersediaan infrastruktur, nilai investasi, serta model kemitraan dengan masyarakat.
Pengembangan industri juga diharapkan memperhatikan kebutuhan tenaga kerja, peningkatan keterampilan, dan keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam rantai pasok.
Langkah tersebut sejalan dengan transformasi transmigrasi yang diarahkan untuk membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa melalui industrialisasi dan hilirisasi berdasarkan potensi daerah.
Keberhasilan kerja sama, menurut Kementerian Transmigrasi, tidak hanya diukur dari jumlah perusahaan yang ditemui atau nilai perdagangan yang dibahas. Hal yang lebih penting ialah realisasi investasi produktif, peningkatan pendapatan petani, perluasan kesempatan usaha, dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
Kementerian Transmigrasi akan menindaklanjuti hasil penjajakan melalui pemetaan peluang proyek dan calon mitra sesuai dengan kebutuhan pengembangan kawasan transmigrasi.
Melalui langkah tersebut, kerja sama ekonomi Indonesia dan Tiongkok diharapkan berkembang melampaui perdagangan bahan mentah menuju kemitraan industri yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.










