TVRINews, Jakarta
Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima audiensi Forum Senat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia di kantor pusat Kementerian Agama, Rabu, 14 Oktober 2026. Dalam pertemuan tersebut, Forum Senat menyampaikan sejumlah naskah akademik serta aspirasi para guru besar dan rektor PTKIN terkait penguatan tata kelola perguruan tinggi Islam negeri.
Ketua Forum Senat PTKIN yang juga Guru Besar Hukum Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Prof. Pagar, mengatakan aspirasi yang disampaikan forum merupakan suara penting dari kalangan akademisi PTKIN.
"Saya kira suara senat ini sangat layak untuk dipertimbangkan. Sebab 1.472 guru besar PTKIN se-Indonesia hampir semuanya ada di senat, termasuk para rektor masuk dalam jajaran senat," ujar Prof. Pagar dalam keterangan tertulis, dikutip, Rabu, 14 Oktober 2026.
Dalam audiensi tersebut, Prof. Pagar menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Menag, di antaranya peningkatan kualitas PTKIN agar mampu bersaing di tingkat global, harmonisasi remunerasi, serta penguatan fungsi senat dalam tata kelola perguruan tinggi.
Sementara itu, Sekretaris Forum Senat PTKIN yang juga Guru Besar Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Masri Mansoer, menyampaikan bahwa forum telah menyusun sejumlah naskah akademik sebagai landasan pengembangan PTKIN ke depan.
Naskah tersebut mencakup kajian mengenai statuta, pokok-pokok pikiran tentang otonomi dan standardisasi kelembagaan STAIN, IAIN, dan UIN, rencana strategis (renstra), serta berbagai masukan terkait dinamika dan tata kelola kelembagaan.
Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Kamsi, turut melaporkan perkembangan institusinya, termasuk penerimaan 50 mahasiswa angkatan pertama Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga dari sekitar 600 pendaftar.
Selain itu, UIN Sunan Kalijaga meraih peringkat kedua berdasarkan rilis terbaru Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027 yang diumumkan pada akhir September 2026.
Prof. Kamsi juga menjelaskan penyusunan naskah akademik yang dilakukan Forum Senat untuk mendukung standardisasi kelembagaan PTKIN.
"Terkait juga apa sampaikan oleh Pak Masri. Bahwa forum senat ini sudah membuat naskah akademik antara standarisasi, ortaker dan statuta. Jadi, standarisasi untuk STAIN, IAIN dan UIN ya. Tentunya masing-masing akan juga menyesuaikan dengan kondisi yang ada,"jelasnya.
Menanggapi berbagai aspirasi dan laporan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik gagasan serta capaian yang disampaikan Forum Senat PTKIN. Ia menegaskan, PTKIN, IAIN, dan STAIN merupakan aset sekaligus warisan penting negara dalam pengembangan pendidikan Islam yang harus dikelola secara profesional.
Menag juga membagikan pengalamannya saat meninjau sistem pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Menurutnya, para guru besar di lingkungan PTKIN perlu meningkatkan produktivitas akademik melalui riset, penulisan karya ilmiah bertaraf internasional, serta pembimbingan terhadap dosen-dosen muda.
"Kita ingin ke depan ini para guru besar itu motor penggerak perguruan tinggi,"ucapnya.
Ia berharap para guru besar dapat menghasilkan lebih banyak karya akademik berkualitas, baik dalam bentuk buku maupun artikel ilmiah yang dipublikasikan secara internasional.
"Jadi mohon kalau bisa, kita ke depan itu diajak kawan-kawan kita guru besar ini, lebih berpikir produktif ya, bagaimana secara individu bisa menciptakan suatu karya-karya akademik yang hebat. Bukunya sudah berapa, artikel internasional sudah berapa?," imbuh Menag.
Menutup pertemuan, Nasaruddin berharap Forum Senat PTKIN terus berperan dalam menjaga dan meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi Islam negeri. Ia juga mendorong kolaborasi untuk mengangkat reputasi PTKIN agar mampu bersaing, bahkan melampaui perguruan tinggi umum lainnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung cita-cita menjadikan Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia Islam.










