TVRINews, Jakarta
Ketua Umum Lingkar Nusantara (Lisan), Farhan Dalimunthe, menilai narasi yang mengaitkan Hashim S. Djojohadikusumo dengan dugaan kepemilikan saham di PT Folago Global Nusantara Tbk (FolaPlay) tanpa bukti yang dapat diverifikasi berpotensi menjadi fitnah.
Farhan mengingatkan, penyebaran informasi yang belum teruji kebenarannya tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mencederai kualitas demokrasi dan ruang publik digital.
"Demokrasi memberikan ruang bagi siapapun untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Kritik jangan sampai menjadi tuduhan yang belum dapat dibuktikan," sebut Farhan dalam keterangan tertulis, yang diterima redaksi, Rabu, 1 Juli 2026.
FolaPlay merupakan platform penyedia layanan Over-The-Top (OTT) yang ditunjuk sebagai salah satu mitra TVRI untuk menayangkan siaran Piala Dunia 2026. Farhan menegaskan, masyarakat perlu membedakan kritik terhadap kebijakan publik dengan tuduhan kepada individu.
Menurutnya, kritik merupakan bagian dari mekanisme kontrol dalam demokrasi. Sementara itu, tuduhan mengenai kepemilikan perusahaan atau dugaan konflik kepentingan harus didukung bukti yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelumnya, Arsari Group, perusahaan investasi multisektoral yang didirikan Hashim S. Djojohadikusumo, telah menyampaikan klarifikasi terkait narasi yang mengaitkan Hashim dengan kepemilikan FolaPlay.
Dalam pernyataannya, Arsari Group menegaskan Hashim bukan pemegang saham, pemegang saham pengendali, ‘beneficial owner’, pengurus, maupun penasihat FolaPlay. Perusahaan juga membantah tuduhan penggunaan anggaran negara melalui kerja sama tersebut untuk menguntungkan Hashim secara pribadi.
"Kami membantah informasi tersebut karena tidak benar, tidak berdasar, dan tidak didukung oleh fakta yang dapat diverifikasi," tegas VP Corporate Communications Arsari Group Ariseno Ridhwan, dikutip dari CNBC Indonesia, 29 Juni 2026.
Lebih lanjut, Farhan dalam keterangannya menyampaikan, nama Hashim ramai dikaitkan dengan dugaan konflik kepentingan terkait penunjukan FolaPlay sebagai mitra OTT siaran Piala Dunia 2026. Narasi tersebut muncul dalam salah satu episode Podcast Bocor Alus Politik Tempo, kemudian tersebar luas melalui berbagai akun media sosial, di antaranya akun TikTok @iamsalimvanjava serta akun Instagram @kabarbaru_co dan @makasar_iinfo.
Farhan juga mengingatkan penyebaran disinformasi di era digital sering berlangsung secara sistematis. Menurutnya, sebuah narasi dibangun oleh satu atau beberapa akun, lalu diperkuat akun lain sehingga menimbulkan kesan seolah-olah informasi tersebut telah menjadi fakta.
"Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah illusory truth effect, yaitu kebohongan yang diulang terus-menerus akan dianggap sebagai kebenaran. Karena itu, masyarakat harus semakin kritis terhadap setiap informasi yang beredar," jelas Farhan.
Di akhir keterangannya, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kualitas demokrasi dengan mengedepankan etika komunikasi, budaya verifikasi, serta penghormatan terhadap fakta.
"Di era demokrasi digital hari ini content creator tidak boleh hanya berorientasi pada viralitas dan ramainya viewers. Demokrasi hanya akan tumbuh sehat apabila informasi disebarkan secara bertanggungjawab, berdasarkan data dan fakta, bukan melalui narasi yang dibangun atas asumsi, apalagi menjadi tempat pembunuhan karakter yang dibungkus sebagai kebebasan berpendapat," tutupnya.










