TVRINews, Jakarta
Kementerian Kehutanan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul peningkatan jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu 26 September 2026 pukul 21.15 WIB, tercatat 331 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
"Meningkat 118 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 213 titik," tulis dalam keterangan yang dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian Kehutanan, Minggu, 27 September 2026.
Peningkatan paling signifikan terjadi di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Kalimantan Selatan mencatat 40 hotspot, naik dari 6 titik pada hari sebelumnya. Sementara Sumatera Selatan mencapai 38 titik, meningkat dari 17 titik.
Di sisi lain, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah turun dari 57 menjadi 30 titik. Kalimantan Barat juga mengalami penurunan dari 14 menjadi 2 titik. Sementara Jambi tercatat 1 hotspot atau sama dengan hari sebelumnya, sedangkan Riau nihil hotspot high confidence. Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas pengendalian karhutla mencatat 111 hotspot high confidence.
Kementerian Kehutanan menegaskan peningkatan hotspot harian menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan, sekaligus memperkuat verifikasi dan respons di lapangan. Penanganan dilakukan melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.
Pemerintah juga menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung operasi karhutla. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 44 unit lainnya untuk operasi water bombing.
Sebanyak 55 armada ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas karhutla, sementara enam unit water bombing lainnya dikerahkan untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak lainnya.
Operasi udara tersebut berjalan bersama operasi darat yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta berbagai pihak terkait.
Kementerian Kehutanan juga memberikan perhatian khusus terhadap kebakaran di lahan gambut. Bara api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika kondisi lahan mengering dan angin menguat.
Di tengah penanganan karhutla, kualitas udara di sejumlah wilayah juga masih terdampak asap. Pemantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat lokasi dengan kategori berbahaya.
Asap juga masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah. Palangka Raya tercatat memiliki jarak pandang sekitar 0,6 kilometer, Banjarmasin 1,7 kilometer, Pontianak 2 kilometer, dan Jambi sekitar 4,8 kilometer.
Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak untuk mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Informasi mengenai asap, titik api, maupun aktivitas pembakaran diminta segera dilaporkan agar dapat ditangani sedini mungkin.
Kementerian Kehutanan menegaskan jumlah hotspot tidak dapat secara langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area terbakar. Setiap indikasi hotspot tetap memerlukan verifikasi melalui pemeriksaan di lapangan.










