TVRINews, Jakarta
Museum Nasional Indonesia meluncurkan program publik interaktif bertajuk BERANDA atau Berbincang Ragam Budaya. Program perdana ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat koleksi sekaligus narasi sejarah yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia.
Peluncuran BERANDA berlangsung di Ruang Teater Gedung C Museum Nasional Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, museum juga menjadi lokasi peluncuran buku terbaru karya Herald van der Linde berjudul SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan pemilihan Museum Nasional Indonesia sebagai lokasi peluncuran buku menjadi kesempatan untuk membuka pembahasan mengenai sejarah Sriwijaya kepada masyarakat secara lebih luas.
Menurut Indira, peluncuran kali ini menjadi momentum berbeda karena kegiatan sebelumnya yang membahas buku Sriwijaya masih digelar secara terbatas.

“Acara kali ini merupakan peluncuran buku. Menurut Pak Herald, acara-acara sebelumnya mengenai buku Sriwijaya masih digelar secara terbatas. Jadi, ini merupakan acara pertama yang secara resmi dibuka untuk masyarakat umum,” ujar Indira dalam keterangan yang dikutip, Minggu, 27 September 2026.
Dalam pemaparannya, Herald van der Linde menjelaskan proses penyusunan buku dilakukan melalui penelusuran terhadap ratusan literatur dan berbagai sumber sejarah.
Buku tersebut mengulas perjalanan peradaban Sriwijaya, mulai dari catatan perjalanan biksu I Tsing pada 670 Masehi hingga sosok Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang tercatat dalam sejumlah prasasti sejarah.
Pembahasan juga mencakup keterkaitan Sriwijaya dengan Wangsa Syailendra dan pembangunan Borobudur, serta hubungan sejarahnya dengan perkembangan wilayah yang kemudian dikenal sebagai Singapura.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah situs Muara Jambi di Sumatra. Situs tersebut dibahas sebagai salah satu pusat pembelajaran penting pada masanya dan bagian dari jaringan intelektual serta keagamaan yang berkembang di kawasan Asia.
Herald juga menguraikan bagaimana pelabuhan-pelabuhan di Nusantara berperan penting dalam membangun jejaring perdagangan dan diplomasi internasional.
Melalui jalur maritim tersebut, Nusantara tidak hanya menjadi tempat persinggahan perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan, budaya, dan kepercayaan antarkawasan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Umum Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo dan Presiden Indonesian Heritage Society Christine Kristiati.
Indira berharap program BERANDA dapat menjadi ruang dialog yang membuat koleksi museum semakin dekat dengan masyarakat. Narasi sejarah yang selama ini tersimpan dalam koleksi diharapkan dapat dipahami dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap narasi yang ada di balik koleksi Museum Nasional Indonesia dapat terus dihidupkan dan masyarakat semakin memahami pentingnya sejarah kebaharian Nusantara dalam membentuk identitas bangsa,” katanya.
Program BERANDA sekaligus menjadi bagian dari upaya Museum Nasional Indonesia memperluas akses publik terhadap pengetahuan sejarah dan kebudayaan.
Museum Nasional Indonesia berkomitmen menghadirkan narasi koleksi secara lebih relevan, kontekstual, dan inklusif sehingga museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar dan berdiskusi bagi masyarakat.
Dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemajuan kebudayaan nasional sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai sejarah dan warisan budaya Nusantara.










