TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pemerataan akses dan mutu pendidikan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Upaya tersebut dilakukan melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, serta penguatan karakter murid.
Langkah tersebut bertujuan memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas, tanpa terkendala kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, maupun latar belakang ekonomi. Perhatian juga diberikan kepada murid di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta peserta didik berkebutuhan khusus.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan Presiden Prabowo memberikan mandat untuk membangun generasi Indonesia yang unggul melalui peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah. Kebijakan tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat, yakni pembangunan sumber daya manusia berkualitas sekaligus penguatan ideologi Pancasila, budaya, dan bahasa.
Salah satu perhatian utama Presiden adalah memastikan seluruh sekolah memiliki fasilitas yang layak sehingga murid dapat mengikuti pembelajaran dengan aman dan nyaman.
“Pak Presiden berkali-kali menyampaikan tidak boleh ada sekolah yang atapnya roboh, tidak boleh ada yang toiletnya kotor, tidak boleh ada kelas yang rusak dan sebagainya,”kata Abdul Mu'ti dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 2 November 2026.
Sebagai tindak lanjut, Kemendikdasmen telah merevitalisasi lebih dari 55.000 satuan pendidikan selama dua tahun pertama pemerintahan. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi hampir 80.000 satuan pendidikan hingga akhir 2026.
Program revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah dengan tingkat kerusakan berat, satuan pendidikan di wilayah 3T, serta sekolah yang terdampak bencana. Di wilayah Sumatra, misalnya, pemerintah terus melakukan pemulihan fasilitas pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan.
Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa 98 persen sekolah terdampak bencana di wilayah tersebut telah dibangun kembali dan seluruhnya kembali melaksanakan pembelajaran secara normal. Meski demikian, sebagian sekolah masih menerapkan sistem pergantian waktu belajar.
Selain pembenahan infrastruktur, Kemendikdasmen memperluas digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan perangkat teknologi di sekolah. Sepanjang 2025, lebih dari 288.865 papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) telah didistribusikan ke berbagai satuan pendidikan di Indonesia.
Pada 2026, pemerintah menargetkan penambahan lebih dari 700.000 perangkat sehingga jumlah IFP yang tersedia dapat melampaui satu juta unit dalam dua tahun.
Abdul Mu'ti menjelaskan, digitalisasi tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat, tetapi juga mencakup kesiapan guru dan infrastruktur pendukung agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran.
“Program digitalisasi itu paketnya ada empat. Pertama tentu saja adalah perangkatnya, yang kedua adalah laptop, yang ketiga yaitu pelatihan guru, dan yang keempat adalah fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan juga materi pembelajarannya,” jelasnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut juga membuka peluang pembelajaran yang lebih inklusif bagi murid berkebutuhan khusus. Fitur audio pada IFP, misalnya, dapat membantu murid tunanetra mengikuti kegiatan belajar. Sementara itu, guru di sekolah luar biasa di Kudus telah mengembangkan materi pembelajaran berbantuan kecerdasan artifisial (AI) untuk murid tunarungu.
IFP juga dapat digunakan sebagai laboratorium virtual yang memungkinkan murid mempelajari berbagai konsep sains melalui simulasi in…









