TVRINews, Karawang
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meninjau kesiapan komersialisasi pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia milik SK Plasma Core Indonesia dalam kunjungan kerja pada Rabu, 3 Juni 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pengembangan industri plasma nasional berjalan optimal sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia.
Dalam arahannya, Menkes Budi menegaskan pemerintah akan mendukung penuh proses hilirisasi industri plasma melalui integrasi berbagai institusi pemerintah dan BUMN kesehatan.
“Kami pasti akan mendukung penuh dan mencari cara terbaik untuk menstrukturkan kerja sama ini dengan baik. Pemerintah dapat bergerak melalui integrasi dengan institusi seperti Danantara maupun sinergi dengan holding BUMN farmasi seperti Bio Farma,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menekankan kerja sama tersebut harus menghasilkan dampak nyata bagi penguatan industri kesehatan nasional, bukan hanya berhenti pada penandatanganan kerja sama.
Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan peta jalan jangka panjang industri kesehatan Indonesia untuk lima hingga 30 tahun ke depan yang mencakup sektor farmasi, rumah sakit, hingga alat kesehatan.
“Jika kita bisa mengulang kecepatan pembangunan pabrik plasma ini untuk produksi bahan baku obat lokal, vaksin, dan obat inovatif lainnya, ketahanan kesehatan kita akan sangat kuat,”jelasnya.
Menkes juga mengapresiasi percepatan pembangunan fasilitas tersebut yang dinilai berjalan efektif sejak adanya perubahan regulasi pada 2023. Pabrik tersebut ditargetkan dapat beroperasi penuh pada 2027.
Sementara itu, Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, Hyunho Roh menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri plasma di Indonesia.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan berkelanjutan dari Kementerian Kesehatan. Saat pertama kali kami datang untuk meminta izin usaha, kami berjanji akan membangun pabrik ini dalam waktu dua tahun dan hari ini pabrik tersebut telah selesai dibangun,”kaya Hyunho.
Ia menyebut perusahaan kini tengah menunggu proses komersialisasi sebelum melanjutkan pengembangan tahap berikutnya, termasuk pembangunan bank plasma di Indonesia serta pengembangan industri farmasi dan vaksin.
“Jika Kemenkes memberikan kesempatan berikutnya, kami akan memberikan kemampuan terbaik kami untuk menjaga komitmen tersebut,”ucapnya.
Kementerian Kesehatan menegaskan akan terus mengawal penguatan regulasi dari hulu hingga hilir, termasuk memperkuat pasokan bahan baku melalui pengembangan pusat plasma nasional guna mendukung keberlanjutan industri plasma di Indonesia.










