TVRINews, Jeddah
Aktivitas berburu oleh-oleh menjadi salah satu momen yang dinanti jemaah haji sebelum kembali ke Tanah Air. Perhiasan seperti emas menjadi pilihan yang kerap dibawa pulang sebagai buah tangan dari Tanah Suci.
Tradisi ini telah lama melekat di kalangan sebagian jemaah haji asal Sulawesi Selatan, khususnya dari Bone. Kalung, gelang, cincin, hingga aksesori berwarna emas menjadi oleh-oleh yang banyak dipilih untuk keluarga di kampung halaman.
Di ruang tunggu Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, suasana kepulangan jemaah haji Debarkasi Makassar kloter UPG 3 tampak dipenuhi kilau perhiasan yang dikenakan para jemaah perempuan.
Perhiasan tersebut tampak menghiasi pergelangan tangan, leher, hingga jari tangan jemaah. Baik emas asli maupun imitasi, aksesori berkilau itu menjadi salah satu pilihan favorit usai menunaikan ibadah haji.
Tak hanya untuk diri sendiri, banyak jemaah yang membeli perhiasan untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat, hingga tetangga di kampung halaman.
"Kayak gelang, gelang-gelang begini, batu, cincin," ujar Rahmah selaku jemaah haji asal Bone, Jumat, 5 Juni 2026.
"Banyak gelang-gelang, cincin, jam tangan juga ada. Biasanya saudara, teman kantor, tetangga-tetangga juga, pasti kebagian semua," kata Nur Fadillah selaku jemaah haji asal Bone.
"Ini ada, ada gelang. Cincin belum dipakai habis enggak muat tangannya, kebanyakan beli cincin. Iya (dibagikan) ke saudara, ke tetangga, ke teman-teman kantor, iya," tutur Rosmiati selaku jemaah haji asal Bone.
Fenomena membawa pulang perhiasan dari Tanah Suci bukan hal baru, terutama di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar. Perhiasan menjadi simbol kebahagiaan sekaligus ungkapan syukur setelah menunaikan ibadah haji.
Bagi sebagian jemaah, perhiasan yang dibeli bukan sekadar barang bawaan, melainkan buah tangan khas Tanah Suci yang dibagikan sebagai bentuk kebahagiaan kepada keluarga di rumah.










