TVRINews, Bantul
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto di Kemusuk, Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya penguatan museum tokoh bangsa sebagai sarana edukasi publik dan pelestarian sejarah.
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon melihat berbagai koleksi, dokumentasi, dan diorama yang menggambarkan perjalanan hidup Presiden ke-2 RI Soeharto, mulai dari masa kecil di Kemusuk, kiprah dalam perjuangan kemerdekaan, hingga masa pengabdiannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Menurut Fadli Zon, museum tersebut memiliki nilai historis penting karena berdiri di kawasan tempat kelahiran Soeharto sehingga memberikan konteks sejarah yang kuat bagi masyarakat.
“Pak Harto merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, terutama pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan,”ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Juni 2026.
Ia menjelaskan museum itu juga menghadirkan berbagai catatan sejarah nasional, termasuk peran Soeharto sebagai Kepala Wehrkreise III saat Agresi Militer Belanda II serta peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.
Menurutnya, Serangan Umum 1 Maret menjadi momentum penting untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih tetap ada dan terus melawan penjajahan Belanda.
Fadli Zon menambahkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan di Jawa, tetapi juga melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara serta perang gerilya yang dipimpin Sudirman.
Selain itu, museum juga memuat dokumentasi berbagai fase penting sejarah nasional lainnya, termasuk dinamika penumpasan G30S/PKI tahun 1965.
“Oleh karena itu, Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto memiliki nilai penting dalam sejarah bangsa karena berkaitan dengan perjalanan hidup seorang pahlawan nasional,”jelasnya.
Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto diresmikan pada 8 Juni 2013 dan berada di Dusun Kemusuk, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Bantul. Museum tersebut menyimpan berbagai benda pribadi, arsip visual, dokumentasi sejarah, diorama perjuangan, hingga petilasan rumah kelahiran Soeharto.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan dalam kunjungan itu Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono serta Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko.
Kementerian Kebudayaan berharap museum dapat terus menjadi ruang pembelajaran sejarah sekaligus sarana membangun kesadaran dan karakter kebangsaan, terutama bagi generasi muda.










