TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjajaki penguatan kolaborasi dengan kawasan KUNCI BERSAMA yang mencakup 10 daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kolaborasi ini bertujuan mengoptimalkan potensi subsektor unggulan sekaligus memperkuat kelembagaan ekonomi kreatif di daerah.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya mengatakan, ekonomi kreatif menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang pengembangannya perlu dimulai dari daerah. Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk mendorong potensi ekonomi kreatif agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat.
"Ekonomi kreatif menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Tugas kita bersama, pemerintah pusat dan daerah, adalah mengoordinasikan potensi tiap subsektor ekraf supaya berkembang lebih berkualitas, memberikan dampak nyata, dan membuat pegiat ekraf dari skala mikro naik kelas menjadi usaha menengah hingga menuju perusahaan besar," ungkap Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Kamis, 29 Oktober 2026.
Kemudian Riefky memaparkan, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah mencapai 7,38 persen, dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 27,4 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63 persen pekerja ekonomi kreatif berasal dari generasi Z dan milenial, sementara 58 persen di antaranya merupakan perempuan.
Menurut Riefky, penguatan ekonomi kreatif di daerah tidak harus dimulai dengan membangun ruang atau program baru, tetapi dapat dilakukan dengan memperkuat ekosistem yang telah tersedia. Program pengembangan juga akan disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.
"Kami tidak sekadar membangun ruang atau program baru, tetapi memperkuat ekosistem yang sudah ada di daerah. Tujuannya, supaya sense of creativity tidak hanya berhenti oleh kepala daerah, tetapi semangat penguatan kelembagaan dari daerah juga bisa terbentuk. Program yang diusung akan disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah, mulai dari pengembangan talenta dan kewirausahaan kreatif, penguatan akses pasar, hingga pendampingan bagi produk lokal yang mampu berkembang lebih pesat," jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Ekraf menawarkan tiga pendekatan program, yakni aktivasi desa kreatif, aktivasi creative hub, serta pengembangan Creative by Indonesia. Program terakhir diarahkan untuk mengkurasi jenama lokal potensial agar mampu berkembang menjadi juara nasional hingga global.
Kementerian Ekraf juga menjajaki koordinasi teknis dengan pemerintah daerah, termasuk melalui penunjukan narahubung untuk memetakan kebutuhan program dan potensi subsektor ekonomi kreatif unggulan di setiap wilayah.
Kawasan KUNCI BERSAMA sendiri meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes, Kota Banjar, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran, dan Kabupaten Indramayu.
Ketua Forum KUNCI BERSAMA sekaligus Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menyampaikan bahwa wilayahnya memiliki keterkaitan kuat antara kekayaan alam, budaya, dan produk ekonomi kreatif. Potensi tersebut mencakup subsektor film, video, konten digital, kuliner, kopi, batik khas Kuningan, hingga seni pertunjukan angklung.
Dian berharap dukungan Kementerian Ekraf dapat memperkuat pengembangan talenta, penempatan usaha, serta menghadirkan ruang kreatif bagi masyarakat. Ia juga mengusulkan agar Kuningan menjadi prioritas pengembangan karena kekayaan alam dan budaya lokalnya berpotensi mendukung promosi pariwisata.
Sementara itu, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami menyoroti pentingnya integrasi ekonomi kreatif dengan sektor pariwisata. Pangandaran memiliki potensi untuk menyambut 5 juta wisatawan per tahun dengan mengandalkan subsektor kuliner, termasuk Pindang Gunung, kriya pesisir, fesyen, fotografi, dan sinematografi muda.
Citra berharap pemerintah pusat dapat memberikan pendampingan untuk memperkuat kelembagaan ekonomi kreatif, mengembangkan ruang bersama, serta meningkatkan keterampilan para pegiat. Selain itu, fasilitasi promosi, akses pembiayaan, dan perluasan jejaring usaha juga diperlukan agar produk lokal Pangandaran semakin berkembang.
Melalui kolaborasi ini, Kementerian Ekraf berharap potensi lokal di kawasan KUNCI BERSAMA dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis daerah diharapkan mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta mendorong pelaku ekonomi kreatif naik kelas.










