TVRINews, Jakarta
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) optimistis mencapai kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028. Target tersebut didukung percepatan pengembangan proyek strategis, optimalisasi aset yang telah beroperasi, serta penguatan portofolio pengembangan panas bumi.
Optimisme tersebut disampaikan Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam kegiatan Public Expose PGEO 2026 di Jakarta, Selasa, 3 November 2026. Dalam kesempatan itu, PGE memaparkan perkembangan proyek prioritas dan kinerja operasional serta keuangan hingga September 2026.

“Target 1 GW pada 2028 menjadi tonggak penting dalam strategi pertumbuhan PGE. Kami optimistis dapat mencapainya melalui percepatan proyek-proyek prioritas, penguatan kesiapan investasi, serta optimalisasi aset yang sudah beroperasi. Optimisme ini didukung fondasi bisnis yang solid, tercermin dari rekor produksi dan pertumbuhan kinerja keuangan Perseroan hingga September 2026,” ujar Ahmad Yani dalam keterangan yang diterima tvrinews, dikutip dari rilis resmi, Rabu, 4 November 2026.
Saat ini, PGE mengelola kapasitas terpasang secara mandiri sebesar 727 megawatt (MW). Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas menjadi 1 GW pada 2028 dan terus berkembang hingga 1,8 GW pada 2033 melalui pengembangan organik, anorganik, serta percepatan proyek.
Untuk mencapai target tersebut, PGE memprioritaskan 12 proyek pengembangan dengan total kapasitas 320 MW. Sejumlah proyek di antaranya adalah Ulubelu Binary Unit 1, 2, dan 3 berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2027, serta Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW pada 2028.
Proyek lainnya mencakup pengembangan di Lahendong, Lumut Balai, Sibayak, dan Sungai Penuh. Selain itu, terdapat proyek Ulubelu Extension (Gunung Tiga) berkapasitas 55 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2029, serta Lumut Balai Low Pressure Unit 1 dan 2 sebesar 20 MW pada 2031.
PGE juga mempercepat lima proyek dengan total kapasitas 105 MW yang sebelumnya dijadwalkan beroperasi setelah 2028. Sementara itu, proyek PLTP Hululais Unit 1 dan 2 saat ini memasuki tahap finalisasi Perjanjian Pemegang Saham (Shareholders Agreement/SHA) dan Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA).
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan percepatan proyek dilakukan dengan mengoptimalkan tahapan pengembangan, termasuk menjalankan kegiatan teknis secara paralel serta menyelesaikan aspek komersial dan pembiayaan.
“Strategi akselerasi kami berfokus pada percepatan tahapan kritis proyek, mulai dari penyelesaian studi teknis, pengeboran dan pengujian sumur, hingga persiapan konstruksi. Di saat yang sama, kami juga mendorong kepastian PPA dan kesiapan pembiayaan agar tambahan kapasitas pembangkit dapat direalisasikan sesuai target,”ungkap Edwil.
Di luar proyek untuk mencapai kapasitas 1 GW, PGE juga memiliki portofolio pengembangan panas bumi dengan total potensi hingga 3 GW. Portofolio tersebut mencakup sejumlah proyek yang telah memperoleh PPA maupun Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC).
Salah satu proyek yang dikembangkan adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2030. Pengembangan tersebut dilakukan melalui optimalisasi aset brownfield dan pengembangan proyek greenfield.
Dari sisi operasional, PGE mencatatkan produksi energi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari hingga September 2026. Capaian tersebut merupakan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan atau meningkat 9,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Keandalan operasional perusahaan juga tercermin dari Availability Factor sebesar 98,51 persen dan Forced Outage Rateyang berada di level 0,21 persen. Sementara itu, dari sisi keuangan, PGE membukukan pendapatan sebesar 352,20 juta dolar AS atau tumbuh 10,46 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba bersih meningkat 21,45 persen menjadi 126,62 juta dolar AS, sedangkan EBITDA tumbuh 15,58 persen menjadi 287,77 juta dolar AS.
Perseroan juga mencatatkan kas dan setara kas sebesar 713,68 juta dolar AS. Adapun total liabilitas turun 3,37 persen menjadi 955,55 juta dolar AS. Ahmad Yani menambahkan, pengembangan panas bumi menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan energi dan percepatan transisi energi nasional. Terlebih, Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi sekitar 24 GW.
Tahun 2026 juga menjadi momentum 100 tahun pengembangan panas bumi di Indonesia yang bermula dari kegiatan eksplorasi di Kamojang pada 1926. Sebagai sumber energi bersih yang dapat menghasilkan listrik secara stabil dan berkelanjutan (baseload), panas bumi dinilai memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional. Hal tersebut sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menargetkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 GW.
“Momentum satu abad panas bumi Indonesia menjadi dorongan bagi kami untuk mengakselerasi pemanfaatan potensi yang masih sangat besar. Melalui pengembangan kapasitas baru dan optimalisasi aset eksisting, PGE berkomitmen memperkuat peran panas bumi dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi energi nasional,”tuturnya.









