TVRINews, Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pemanfaatan teknologi digital berbasis Virtual Reality (VR) untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran geologi yang lebih interaktif. Upaya ini dilakukan melalui digitalisasi koleksi ilmiah geodiversitas sehingga objek batuan dapat dipelajari dalam bentuk digital tanpa harus menghadirkan benda aslinya.
Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Batuan, Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Sukendar Asikin, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Tri Kukuh Prasetiyo, menjelaskan bahwa koleksi geodiversitas, seperti batuan, mineral, fosil, dan tanah, memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai media pendidikan.
Hal tersebut disampaikannya dalam webinar TakSon #24. Ia menjelaskan, salah satu upaya digitalisasi dilakukan dengan mengubah koleksi fisik menjadi model tiga dimensi (3D) melalui proses pemindaian (scanning).
Melalui model tiga dimensi, pengguna dapat mengamati karakteristik objek secara lebih detail, mulai dari bentuk hingga tekstur batuan. Teknologi ini juga memberikan pengalaman pengamatan yang lebih luas dibandingkan gambar dua dimensi.
“Kalau gambar, kita hanya mengamati dari satu sisi, ketika menggunakan model tiga dimensi kita bisa mengamati secara 360 derajat,”ujar Tri Kukuh dalam keterangan tertulis, dikutip, Rabu, 4 November 2026.
Model digital tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan melalui berbagai media pembelajaran, seperti presentasi, situs web, Content Management System (CMS), maupun Learning Management System (LMS). Pengguna juga dapat berinteraksi dengan objek melalui fitur memutar, menggeser, dan memperbesar tampilan untuk mengamati detail koleksi.
Tri juga menjelaskan perbedaan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Teknologi AR memungkinkan objek digital ditampilkan dalam lingkungan nyata, sedangkan VR membawa pengguna masuk ke dalam lingkungan digital. Keduanya dapat digunakan sebagai alternatif untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital juga menjadi solusi dalam kegiatan pelatihan ketika koleksi batuan berukuran besar dan memiliki bobot berat sehingga sulit dibawa ke ruang kelas. Dengan digitalisasi, objek tersebut tetap dapat digunakan sebagai materi pembelajaran tanpa harus memindahkan koleksi aslinya.
Meski demikian, Tri menegaskan bahwa pengembangan media pembelajaran tidak hanya bergantung pada teknologi.
Penyusunan materi multimedia juga perlu memperhatikan perpaduan teks, gambar, audio, video, dan animasi agar informasi dapat disampaikan secara efektif dan mudah dipahami.
Ia memaparkan lima prinsip pembelajaran multimedia, yakni mengombinasikan kata-kata dan gambar, menghilangkan elemen yang tidak relevan, memberikan penanda pada informasi penting, menempatkan teks berdekatan dengan gambar yang berkaitan, serta menyajikan informasi kompleks secara bertahap.
Tri menambahkan, kombinasi elemen visual dan verbal dapat membantu pengguna memahami materi pembelajaran dengan lebih baik. Penggunaan gambar yang disertai teks menjadi salah satu cara untuk mempermudah pemahaman terhadap objek yang dipelajari.
“Orang belajar lebih baik dengan kata-kata plus gambar daripada kata-kata saja,”lanjutnya.
Lebih lanjut, pemanfaatan media digital diharapkan dapat mendukung pembelajaran mandiri. Melalui perangkat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti smartphone, masyarakat dapat mengakses informasi mengenai koleksi ilmiah geodiversitas kapan pun dibutuhkan.









