TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat peningkatan cakupan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di DKI Jakarta menjadi lebih dari 26 persen. Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan dua hingga tiga tahun sebelumnya yang masih berada di bawah lima persen.
Peningkatan ini menjadi salah satu hasil evaluasi Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, saat melakukan monitoring dan evaluasi program penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Kecamatan Taman Sari, Jakarta.
Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, delapan Puskesmas, serta sejumlah rumah sakit, di antaranya RS Pelni, RS Sumber Waras, dan RS Cengkareng.
Wamenkes Benjamin mengatakan, upaya penanggulangan TBC di Indonesia selama ini telah berjalan cukup baik dari sisi pengobatan pasien. Namun, upaya pencegahan melalui pelacakan kontak erat dan pemberian obat pencegahan masih perlu ditingkatkan.
“Selama ini kita cukup baik dalam mengobati pasien TBC. Tantangan kita adalah pencegahan. Jika ditemukan kontak erat yang berisiko tertular, mereka harus segera dilacak dan diberikan obat pencegahan, sementara pasien yang sudah sakit langsung diobati. Dengan begitu, kasus baru bisa dicegah sebelum berkembang menjadi penyakit,”kata Wamenkes Benjamin dalam keterangan tertulis, dikutip, Rabu, 4 November 2026.
Ia mengapresiasi peningkatan cakupan pemberian TPT di DKI Jakarta yang kini telah melampaui 26 persen. Menurutnya, capaian tersebut menjadi kemajuan penting dalam memperkuat langkah pencegahan penularan TBC.
Meski demikian, Benjamin menilai pelacakan kontak erat di Jakarta masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya mobilitas masyarakat yang tinggi karena banyak warga beraktivitas dan bekerja di luar rumah.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan kerja sama antara pemerintah daerah, Puskesmas, rumah sakit, hingga pemerintah wilayah agar penemuan kasus dan upaya pencegahan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang cukup lengkap, mulai dari Puskesmas, rumah sakit hingga Puskesmas Pembantu. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat eliminasi TBC. Kita perlu terus mengevaluasi kelemahan dan memperbaiki strategi agar program ini semakin menjangkau masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta drg. Ani Ruspitawati mengatakan, dukungan Kemenkes serta program penelusuran TBC yang terintegrasi dengan JKG menjadi momentum untuk mempercepat pencapaian target pengendalian TBC di Jakarta.
Ia menyebut, penguatan upaya pencegahan menjadi tantangan berikutnya agar penularan dapat ditekan sehingga kasus TBC tidak terus bermunculan pada tahun-tahun mendatang.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut, Kemenkes mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor, peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, serta optimalisasi pelacakan kontak erat dan pemberian obat pencegahan.
Langkah tersebut diharapkan dapat menekan penularan dan mempercepat pencapaian target eliminasi TBC di Indonesia.









