TVRINews, Jakarta
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak seluruh elemen masyarakat melakukan pertobatan ekologis sebagai langkah untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam.
Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat mengatakan pertobatan ekologis menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
"ini menjadi momen penting bagi kita semua untuk melakukan pertobatan ekologis, yakni merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam. Dengan pertobatan ekologis, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membangun budaya peduli dan bertanggung jawab yang menjadi warisan bagi generasi mendatang," kata Jumhur, dikutip dari siaran persnya, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurut Jumhur, dunia saat ini sedang menghadapi triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Ketiga krisis tersebut saling berkaitan dan mengancam stabilitas ekologi, ekonomi, serta sosial secara global.
"Melihat kenyataan tersebut, kondisi bumi kita tidak sedang baik-baik saja. Untuk itu kita bersama-sama perlu melakukan pertobatan ekologis," ucapnya.
Jumhur menjelaskan bahwa pertobatan ekologis bukan sekadar seruan moral, melainkan panggilan untuk mengubah cara pandang manusia terhadap lingkungan serta membangun kesadaran bahwa setiap tindakan sehari-hari memiliki konsekuensi terhadap keberlanjutan bumi.
"Kita diajak untuk memuliakan alam, mengintrospeksi setiap perilaku dan kebiasaan yang berdampak pada lingkungan, menyadari konsekuensi dari tindakan sehari-hari, dan melakukan aksi nyata untuk menjaga bumi yang kita cintai bersama," ujar Jumhur.
Lebih lanjut, Jumhur menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral dan sosial yang harus dipikul bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Jumhur menilai pertobatan ekologis menuntut tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa manusia adalah bagian dari alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan ekosistem bagi generasi saat ini maupun generasi yang akan datang.
"Pertobatan ekologis bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah panggilan untuk merenung dan mengubah cara kita berinteraksi dengan alam," pungkasnya.










