TVRINews, Tiongkok
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mempelajari pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi pertanian modern di Chongqing, Tiongkok. Pembelajaran ini menjadi referensi untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pertanian modern dan industrialisasi.
Dalam kunjungannya ke Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS), ia mempelajari penerapan riset, teknologi digital, dan inovasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mendorong pembangunan ekonomi perdesaan.
Iftitah menilai, pengembangan kawasan transmigrasi di Papua, Sulawesi, dan berbagai wilayah lainnya perlu didukung riset dan ilmu pengetahuan agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Kami belajar bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru, langkah tersebut harus berbasis riset dan ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya akan sporadis," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi lahan dan sumber daya alam yang besar. Namun, pengembangan sektor pertanian tidak cukup hanya mengandalkan perluasan lahan dan pembangunan infrastruktur.
Produktivitas pertanian juga membutuhkan penelitian kondisi tanah, pemilihan komoditas yang sesuai, penerapan teknologi budidaya, peningkatan keterampilan petani, serta kepastian pasar.
Karena itu, peningkatan kapasitas transmigran dan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam transformasi kawasan transmigrasi.
"Kita juga harus meningkatkan kapasitas para transmigran dan masyarakat lokal di kawasan tersebut agar mereka memiliki know-how," jelasnya.
AI Bantu Tingkatkan Produktivitas Pertanian
Salah satu inovasi yang menarik perhatian Iftitah di CQAAS adalah sistem pertanian cerdas yang mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran melalui teknologi akuaponik.
Sistem tersebut memanfaatkan air dari kolam ikan yang telah melalui proses pengolahan untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman. Air kemudian disirkulasikan kembali sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.
Teknologi kecerdasan buatan dan otomasi turut mendukung pemantauan kondisi budidaya, pemberian pakan secara presisi, serta pengendalian proses produksi. Penerapan teknologi tersebut menunjukkan bagaimana hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi, menghemat sumber daya, dan mengurangi pekerjaan berulang.
Selain itu, CQAAS mengembangkan penelitian mengenai karakteristik tanah dan kesesuaian tanaman untuk membantu menentukan jenis komoditas yang tepat berdasarkan kondisi lahan.
Iftitah menilai, hasil penelitian perlu diterapkan langsung dalam kegiatan produksi agar manfaatnya dapat dirasakan petani.
"Ada intervensi pemerintah dalam bentuk riset yang berjalan setiap bulan, dan hasilnya dibagikan kepada seluruh petani. Mereka juga memiliki pusat penelitian tanah," ungkapnya.
Ia menegaskan, penerapan teknologi di kawasan transmigrasi perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan, iklim, kebutuhan masyarakat, serta kemampuan petani dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi tersebut.
Jajaki Investasi Pertanian di Papua dan Sulawesi
Selain mempelajari teknologi pertanian, Iftitah juga mendorong penguatan kerja sama investasi antara Indonesia dan Tiongkok. Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, mengenai peluang kerja sama pertanian di Papua serta sektor potensial lainnya, termasuk pariwisata.
"Saya sudah berdiskusi dengan Duta Besar Wang Lutong, dan kami berdua sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang pertanian di Papua, serta industri lain seperti pariwisata," katanya.
Menurut Iftitah, kerja sama tersebut diharapkan dapat mempertemukan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, investasi, pengalaman industri, dan akses pasar Tiongkok.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah durian. Sulawesi dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan komoditas tersebut melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan penguatan rantai pasok guna memenuhi kebutuhan pasar internasional, termasuk Tiongkok.
"Tiongkok membutuhkan banyak durian. Anda bisa membawa investasi ke Indonesia, menanam durian di negara kami, misalnya di Sulawesi, dan mari kita nikmati durian tersebut bersama-sama," ucapnya.
Ia menekankan, investasi perlu diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di daerah penghasil komoditas, bukan sekadar meningkatkan perdagangan bahan mentah.
Pengembangan industri pengolahan, fasilitas penyimpanan, teknologi budidaya, dan jaringan pemasaran diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Iftitah juga menegaskan pentingnya transfer pengetahuan dan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku usaha lokal agar investasi memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Pertanian Produktif untuk Masyarakat Kawasan Transmigrasi
Penerapan teknologi dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif juga menjadi perhatian Kementerian Transmigrasi di kawasan Barelang, khususnya Rempang, Kota Batam.
Iftitah menjelaskan, BP Batam dan Pemerintah Kota Batam telah menawarkan sekitar 25 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan sementara untuk kegiatan pertanian masyarakat sebelum pengembangan industri dilaksanakan.
Lahan tersebut berpotensi dikaji untuk kegiatan pembibitan, pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan, serta kegiatan pertanian produktif yang dapat membantu mempertahankan sumber penghidupan masyarakat selama proses pembangunan kawasan berlangsung.
Selain sektor pertanian, Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan ekonomi perikanan dan kelautan melalui kolaborasi lintas kementerian, termasuk dukungan kapal bagi masyarakat pesisir.
Iftitah menilai, setiap kawasan membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbeda sesuai potensi dan karakteristiknya. Namun, seluruh upaya tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan kegiatan ekonomi produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendidikan, Industrialisasi, dan Pasar Jadi Kunci
Dari rangkaian kunjungan ke Tiongkok, Iftitah melihat pentingnya menghubungkan pendidikan, industrialisasi, dan kebutuhan pasar dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Pendidikan dan penelitian diperlukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat serta produktivitas. Sementara itu, industrialisasi berperan menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja, sedangkan kepastian pasar dibutuhkan agar peningkatan produksi dapat berujung pada peningkatan pendapatan.
"Pendidikan adalah kunci pembangunan. Kedua, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan melalui industrialisasi. Ketiga, yang baru saya pelajari dari kunjungan ini, adalah mengenai konsumsi," tuturnya.
Menurutnya, peningkatan produksi pertanian harus diikuti pengembangan industri pengolahan dan perluasan akses perdagangan agar komoditas yang dihasilkan masyarakat memiliki pasar yang jelas.
Karena itu, transformasi kawasan transmigrasi diarahkan untuk mengintegrasikan lahan, tenaga kerja, riset, teknologi, investasi, industri, dan pasar dalam satu ekosistem ekonomi.
Iftitah berharap pembelajaran dari Chongqing dan penjajakan kerja sama dengan Tiongkok dapat mendukung pengembangan pertanian modern serta industri berbasis potensi daerah di Indonesia.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan kawasan transmigrasi diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat daya saing produk Indonesia.
"Jika kita konsisten, kita tidak akan kalah dengan produk-produk dari luar negeri," pungkasnya.










