TVRINews, Jakarta
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memperkuat kemitraan internasional dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, adaptif, kompetitif, dan berdaya saing global.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui partisipasi Indonesia dalam The 2026 Manufacturing and Vocational Education Exchange Forum (MVEF 2026) yang mengangkat tema Collaborative Cluster Development for International High-Skilled Talent Development in Machinery Industry di Hangzhou, Tiongkok.
Staf Ahli Bidang Sumber Daya Berkualitas Kemenko PMK, Katiman, mengatakan perkembangan kecerdasan artifisial (AI), smart manufacturing, dan digitalisasi telah mendorong perubahan cepat dalam dunia industri. Kondisi tersebut menuntut pendidikan vokasi semakin responsif terhadap kebutuhan dunia kerja.
"Transformasi industri berlangsung sangat cepat. Pendidikan vokasi tidak lagi dapat berjalan dengan pendekatan lama, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan nyata industri agar menghasilkan tenaga kerja yang kompeten serta siap bersaing di tingkat global," ujar Katiman dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Menurutnya, pemerintah terus melakukan transformasi pendidikan vokasi melalui implementasi Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.
Kebijakan tersebut mendorong perubahan paradigma pendidikan vokasi dari supply-driven menjadi demand-driven. Artinya, pengembangan kompetensi peserta didik harus disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja dan industri.
Keterkaitan antara satuan pendidikan vokasi dan dunia usaha serta dunia industri juga diperkuat melalui penyelarasan kurikulum, pembelajaran berbasis kerja, sistem pemagangan, hingga pengembangan standar kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Indonesia-Tiongkok Luncurkan ICVEEP Phase II
Dalam forum tersebut, Indonesia dan Tiongkok secara resmi meluncurkan International Cluster Vocational Education Program (ICVEEP) Phase II. Program ini merupakan kelanjutan kerja sama strategis kedua negara dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi.
Katiman menjelaskan, fase kedua ICVEEP akan berfokus pada tiga agenda utama. Pertama, penyelarasan standar kompetensi internasional di bidang manufaktur dan smart manufacturing. Kedua, pengembangan kurikulum bersama yang mengikuti kebutuhan industri. Ketiga, penguatan pengakuan bersama terhadap mata kuliah, kredit akademik, dan sertifikasi profesi.
Pengakuan tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program dual degree serta mobilitas tenaga kerja terampil antarnegara. Tak hanya itu, Indonesia juga mengusulkan penguatan kerja sama jangka panjang melalui pembangunan joint training center, smart workshop, dan laboratorium kolaboratif di politeknik Indonesia.
Kerja sama juga diarahkan pada perluasan program sertifikasi internasional, pertukaran dosen dan pelatih (faculty exchange), serta pembentukan jalur karier internasional bagi lulusan pendidikan vokasi.
"Kemitraan internasional harus mampu memberikan nilai tambah yang nyata, tidak hanya dalam bentuk pertukaran pengetahuan, tetapi juga menghadirkan peningkatan kualitas pembelajaran, transfer teknologi, penguatan kompetensi tenaga pendidik, hingga terbukanya peluang kerja global bagi lulusan vokasi Indonesia," kata Katiman.
Lebih lanjut, Kemenko PMK akan terus mendorong sinergi lintas kementerian dan lembaga, dunia usaha, serta mitra internasional untuk memperkuat tata kelola pendidikan vokasi nasional.
Katiman menegaskan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan mitra internasional menjadi fondasi penting dalam membangun SDM Indonesia yang unggul.
Menurutnya, tata kelola pendidikan vokasi perlu terus ditransformasikan dengan berbasis pada kebutuhan pasar kerja dan industri.
Dengan sinergi berkelanjutan, pendidikan vokasi Indonesia diharapkan semakin berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan industri masa depan sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.









