TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran debu vulkanik dari Gunung Ibu dan Gunung Semeru berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Jumat, 25 September 2026 pukul 07.00 WIB.
Dari hasil analisis tersebut, sebaran debu vulkanik Gunung Ibu teramati bergerak ke arah timur laut hingga tenggara. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Kabupaten Halmahera Barat dan Kabupaten Halmahera Utara.
Sementara itu, debu vulkanik Gunung Semeru teramati bergerak ke arah tenggara dan mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lumajang.
Adapun sebaran debu vulkanik Gunung Lewotolo dan Gunung Dukono tidak terdeteksi dalam analisis citra satelit tersebut.
BMKG mengingatkan hasil analisis citra satelit dapat dipengaruhi kondisi awan di sekitar gunung api. Debu vulkanik yang tidak teridentifikasi pada produk analisis satelit bukan berarti debu vulkanik tidak ada.
Informasi mengenai aktivitas erupsi gunung api tetap mengacu pada informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Badan Geologi.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, kondisi di sekitar gunung api yang dipantau pada Jumat umumnya cerah berawan, berawan hingga berkabut. Gunung Ibu diprakirakan mengalami hujan ringan pada periode tertentu.
Paparan debu vulkanik dapat berdampak terhadap kesehatan, seperti menyebabkan iritasi mata dan kulit, batuk, serta gangguan pernapasan. Debu juga dapat memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Selain kesehatan, debu vulkanik dapat mengganggu transportasi darat, laut, dan udara. Dampaknya antara lain mengurangi jarak pandang, membuat permukaan jalan licin, mengganggu fungsi mesin dan peralatan, serta memengaruhi navigasi dan operasional transportasi.
Dalam kondisi konsentrasi abu yang cukup tebal, debu vulkanik juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan serta menyebabkan keterlambatan, pengalihan rute, hingga penghentian sementara perjalanan.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di Kabupaten Lumajang, Kabupaten Halmahera Barat, dan Kabupaten Halmahera Utara, agar tetap waspada dan tidak panik.
Masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diimbau mengikuti arahan BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat.










