TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kerja sama internasional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) bersama World Meteorological Organization (WMO).
Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Presiden WMO Abdulla Al Mandous ke Kantor Pusat BMKG, Jakarta. Kunjungan tersebut membahas penguatan sistem peringatan dini, pengurangan risiko bencana, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Abdulla Al Mandous yang juga menjabat sebagai Minister to Presidential Court Uni Emirat Arab (UAE) dan Director General National Center of Meteorology (NCM) UAE hadir bersama Director of Institutional Development NCM Ibrahim Al Hosani, International Affairs Specialist NCM Monikumar Ramakrishnan, serta Advisor to President WMO Mary Power.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kerja sama internasional semakin penting di tengah meningkatnya tantangan cuaca, iklim, dan geofisika yang dihadapi berbagai negara.
“Bagi negara-negara seperti Indonesia dan Uni Emirat Arab, kerja sama di bidang sains, teknologi, dan sistem peringatan dini memainkan peran krusial dalam upaya bersama untuk melindungi masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Faisal dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Faisal, WMO memiliki peran strategis dalam memperkuat kolaborasi antarnegara melalui pertukaran data, pengetahuan, dan keahlian di bidang cuaca, iklim, serta sumber daya air.
Kerja sama tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas negara anggota dalam menghadapi risiko bencana yang semakin meningkat akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi berbagai ancaman bencana, mulai dari cuaca ekstrem dan perubahan iklim hingga gempa bumi dan tsunami. Karena itu, BMKG terus mengembangkan layanan informasi dan peringatan dini agar dapat diterima masyarakat secara cepat, tepat, akurat, dan mudah dipahami, termasuk masyarakat di wilayah terpencil dan rentan.
“Kami berkomitmen untuk memastikan informasi yang andal dan tepat waktu dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Karena itu, Indonesia mendukung penuh inisiatif Early Warnings for All yang dicanangkan WMO,”jelasnya.
BMKG juga terus meningkatkan kemampuan prakiraan dan layanan peringatan dini dengan memanfaatkan teknologi terkini, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi informasi kepada masyarakat.

Faisal juga menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dikembangkan NCM UAE. Meski memiliki karakteristik geografis dan iklim berbeda, Indonesia dan UAE memiliki komitmen yang sama dalam pemanfaatan sains dan teknologi untuk mendukung keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.
“Kunjungan ini menjadi momentum yang sangat baik untuk mempererat kerja sama antara Indonesia, UAE, dan WMO, sekaligus bertukar pandangan mengenai prioritas bersama di bidang cuaca, iklim, dan pengurangan risiko bencana,”ucapnya.
WMO Soroti Pengelolaan Radar Cuaca Indonesia
Sementara itu, Presiden WMO Abdulla Al Mandous mengapresiasi capaian BMKG dalam pengembangan sistem observasi dan layanan meteorologi.
Ia menilai Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola jaringan radar cuaca yang dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain.
“Saya melihat Indonesia memiliki kapasitas dan pengalaman yang sangat baik dalam pengelolaan jaringan radar cuaca. Jaringan radar merupakan komponen fundamental dalam layanan meteorologi, dan kami melihat peluang besar untuk mengembangkan kolaborasi di bidang ini,” ungkap Al Mandous.
Al Mandous juga menilai penguatan sistem peringatan dini semakin penting seiring meningkatnya kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan disebut menjadi salah satu fokus utama WMO dalam beberapa tahun mendatang.
“Mengenai strategi WMO ke depan, perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan menjadi isu yang sangat penting. Kita menghadapi semakin banyak kejadian cuaca ekstrem yang membutuhkan perhatian dan respons yang cepat,”tambahnya.
Selain bidang meteorologi dan iklim, Al Mandous melihat peluang kerja sama dalam pengembangan sistem pemantauan dan peringatan dini tsunami.
Menurutnya, Indonesia dan UAE sama-sama terlibat dalam berbagai program internasional di bawah koordinasi UNESCO yang berkaitan dengan sistem peringatan dini tsunami.
“Kita dapat mengembangkan kolaborasi di bidang ini melalui kerja sama antara pusat meteorologi kedua negara,”ucapnya.
Dalam kunjungan tersebut, Abdulla Al Mandous bersama delegasi juga meninjau fasilitas Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG. Fasilitas yang ditinjau antara lain ruang operasional Indonesia Tsunami Early Warning System(InaTEWS), Meteorology Early Warning System (MEWS), dan Climatology Early Warning System (CEWS).
BMKG turut memaparkan kontribusi Indonesia dalam sejumlah program strategis WMO. Salah satunya melalui keterlibatan sebagai Systematic Observations Financing Facility (SOFF) Peer Advisor yang mendukung penguatan sistem observasi meteorologi di Timor-Leste dan Maladewa bersama WMO dan Finnish Meteorological Institute (FMI).
Indonesia juga berkontribusi dalam implementasi WMO Integrated Global Observing System (WIGOS) melalui penguatan sistem observasi nasional, dukungan terhadap Global Basic Observing Network (GBON), serta pengembangan kapasitas negara anggota melalui pelatihan dan bantuan teknis.
Selain itu, WMO Regional Training Centre (Ina-RTC) turut berperan dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di kawasan Regional Association V (RA V), melalui pelatihan, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kompetensi di bidang MKG.
Melalui kunjungan tersebut, BMKG dan WMO membahas kelanjutan kerja sama dalam pengembangan sistem observasi, teknologi peringatan dini, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi internasional untuk menghadapi risiko cuaca, iklim, dan bencana di tingkat regional maupun global.










