TVRINews, Manokwari
Wapres Dorong Modernisasi Perkebunan Kakao Papua Barat.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau sekaligus melakukan penanaman bibit kakao unggulan di lahan perkebunan PT Ebier Suth Cokran, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Sabtu 29 Juni 2026, sebagai sinyal kuat pemerintah dalam merevitalisasi industri kakao nasional sekaligus memperkokoh posisi Papua Barat pada basis produksi komoditas bernilai tinggi tersebut.
Kunjungan kerja ini merupakan implementasi dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menggenjot produktivitas sektor perkebunan di wilayah timur Indonesia.
Setibanya di lokasi, Wapres meninjau langsung skema rehabilitasi yang dijalankan oleh Koperasi Ebier Suth Cokran sebelum turun langsung ke lapangan.
Dalam prosesi penanaman yang dilakukan bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, serta para petani dan mahasiswa tersebut, varietas kakao klon Trinitario unggul meliputi seri CKR-40, CKR-13, CKR-14, dan CKR-12 dipilih sebagai standar bibit nasional untuk wilayah ini.
(Foto: BPMI Setwapres)
Program rehabilitasi kebun kakao Kementerian Pertanian TA 2026 ini menargetkan pengelolaan lahan seluas 2.000 hektare. Sebanyak 1.800 hektare di antaranya akan digarap oleh petani lokal, sementara 200 hektare sisanya dikelola langsung oleh Koperasi Ebier Suth Cokran. Lahan tersebut dirancang menggunakan pendekatan agroforestri berkelanjutan dengan proporsi 1.200 hektare area produktif dan 800 hektare kawasan konservasi.
Direktur Manajemen Pemasaran dan Komunikasi PT Ebier Suth Cokran, Febri Sumbung, menilai kehadiran Wapres di lapangan memberikan dorongan moral sekaligus praktis bagi pengembangan industri kakao yang kompetitif.
"Wakil Presiden menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama kakao dunia, namun hal tersebut harus dibangun melalui peningkatan produktivitas, kualitas, hilirisasi, serta pengelolaan kebun yang ramah lingkungan," ujar Febri.
Febri menambahkan bahwa Wapres memberikan atensi khusus pada aspek keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat adat. Menurutnya, pemerintah menaruh harapan besar pada sistem agroforestri dinamik yang mampu menyeimbangkan ekosistem hutan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.
"Beliau juga memberikan perhatian khusus terhadap upaya rehabilitasi kebun melalui penerapan sistem agroforestri dinamik, penanaman pohon naungan, serta penguatan kapasitas petani agar industri kakao Indonesia mampu bersaing di pasar global yang semakin menuntut aspek keberlanjutan dan ketertelusuran produk," jelasnya.
Model bisnis yang diterapkan di perkebunan ini dinilai cukup progresif dalam pemberdayaan lokal. Saat ini, sekitar 88 hingga 90 persen tenaga kerja di PT Ebier Suth Cokran merupakan masyarakat adat Papua.
Mereka terlibat di seluruh rantai nilai, mulai dari tahap pembibitan, pemeliharaan tanaman, hingga proses pengendalian mutu pascapanen, yang mencerminkan keberhasilan integrasi antara industri modern dan kearifan lokal.










