TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar menilai penyelenggaraan Baba Lili Tata (BaLiTa) Run 2026 membuktikan bahwa Intellectual Property (IP) lokal dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan berbagai subsektor.
Irene mengatakan, IP animasi seperti BaLiTa tidak hanya dapat dikembangkan sebagai tayangan hiburan, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan olahraga, event, merchandise, retail, edukasi, hingga pariwisata. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri BaLiTa Run 2026 di Jakarta, Minggu, 16 Agustus 2026.
Menurut Irene, pemerintah memiliki peran untuk memastikan semakin banyak IP Indonesia memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan masuk ke pasar. Ia menilai pembangunan IP merupakan investasi jangka panjang yang dapat menciptakan ekosistem ekonomi dari satu karakter.
"Tugas pemerintah adalah memastikan semakin banyak IP Indonesia yang memiliki kesempatan untuk tumbuh, masuk ke pasar, dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 16 Agustus 2026.
Kemudian, Irene menyebut BaLiTa menjadi salah satu contoh bagaimana audiens yang telah dibangun melalui konten digital dapat dikembangkan menjadi nilai ekonomi melalui berbagai kanal.
Saat ini, BaLiTa telah memiliki lebih dari 17,6 juta subscribers di YouTube dengan hampir 14 miliar views. IP tersebut juga telah dikembangkan melalui berbagai produk, mulai dari merchandise, buku, dan game, hingga family festival dan kegiatan lari.
Bagi Kementerian Ekraf, Irene menegaskan, komersialisasi IP tidak cukup hanya menghasilkan sebuah karya atau karakter. IP harus mampu berkembang menjadi produk, pengalaman, komunitas, lapangan kerja, hingga menciptakan nilai ekonomi.
"Bagi kami di Kementerian Ekraf, inilah yang kami maksud dengan komersialisasi kekayaan intelektual. Sebuah IP tidak berhenti sebagai karya atau karakter, tetapi harus mampu menciptakan berbagai produk, pengalaman, komunitas, lapangan kerja, dan pada akhirnya nilai ekonomi," ucapnya.
BaLiTa Run 2026 sendiri diikuti sekitar 300 anak-anak dan orang tua. Selain kegiatan lari, acara tersebut menghadirkan berbagai aktivitas interaktif dan edukatif, seperti Poundfit & Zumba, kompetisi anak, art workshop, talkshow, face painting, hingga sand playground. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan jenama lokal untuk memperkenalkan produk kreatif kepada masyarakat.
Irene berharap keberhasilan BaLiTa dapat menjadi inspirasi bagi kreator Indonesia lainnya untuk membangun dan mengembangkan IP secara berkelanjutan sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.









