TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon meresmikan peluncuran video aransemen baru lagu ‘Hari Kemerdekaan’ pada Minggu, 16 Agustus 2026 hari ini. Aransemen ulang tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengenalkan kembali lagu-lagu nasional dan perjuangan kepada generasi muda.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika gagasan aransemen lagu tersebut bertujuan untuk mendorong agar lagu-lagu nasional dan perjuangan kembali diperkenalkan secara luas kepada generasi muda. Selain itu, ia mengatakan jika musik kebangsaan perlu dikemas agar semakin relevan, diminati, dan dekat dengan generasi milenial maupun Gen Z.

“Waktu itu memang saya inisiasi perlunya satu aransemen ulang terhadap lagu-lagu kebangsaan kita, lagu-lagu nasional kita, supaya menjadi semakin relevan dengan generasi muda, khususnya dengan Gen Milenial, Gen Z,” ujar Fadli di TVRI pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Program tersebut diawali dengan lagu “Hari Merdeka” ciptaan Husein Mutahar atau H. Mutahar. Menurut Fadli, pemilihan lagu tersebut juga memiliki keterkaitan dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Fadli menjelaskan, lagu “Hari Merdeka” diciptakan pada 1946, ketika Indonesia tengah menghadapi upaya penjajah kolonial untuk kembali menguasai Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Karena itu, menurutnya, pesan perjuangan dalam lagu tersebut masih relevan untuk dihidupkan kembali.
Dalam penggarapan aransemen baru, Kementerian Kebudayaan menggandeng maestro musik Erwin Gutawa. Konsep yang diusung melibatkan penyanyi dari berbagai generasi untuk menunjukkan bahwa lagu perjuangan dapat diterima lintas zaman.
Sejumlah penyanyi yang terlibat antara lain Titi Hamzah, Harvey Malaiholo, Ahmad Albar, Rita Butarbutar, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, hingga penyanyi generasi muda seperti Novia Bachmid dan Sabrina.

Fadli mengaku sengaja tidak melihat hasil akhir aransemen sebelum peluncuran. Ia ingin mendapatkan kejutan ketika pertama kali menyaksikan video tersebut.
“Saya sendiri memang tidak mau melihat hasilnya sebelumnya, jadi pengen lihat di sini, ada surprise effect-nya,” katanya.
Ia mengaku terkesan dengan hasil aransemen yang dinilainya mampu menghadirkan nuansa baru tanpa menghilangkan jiwa dari lagu tersebut.
“Yang penting kan rasa, soul-nya itu,” ujar Fadli.
Fadli juga mengungkapkan rencana kerja sama Kementerian Kebudayaan dengan TVRI untuk memperluas program kebudayaan, termasuk di bidang musik dan film.
Menurutnya, TVRI memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Karena itu, kolaborasi dengan lembaga penyiaran publik tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas jangkauan karya-karya kebudayaan kepada masyarakat.
Fadli berharap aransemen baru lagu “Hari Merdeka” serta program serupa ke depan dapat menghadirkan semangat baru dalam memperkenalkan musik nasional kepada masyarakat.

“Kita ingin lagu-lagu ini didengarkan, relevan, dan membawa satu semangat baru, nafas baru, membangkitkan nasionalisme, cinta pada tanah air, kebanggaan pada bangsa dan negara kita,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa rasa cinta terhadap tanah air perlu terus ditanamkan agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak kehilangan jati diri dan identitas kebangsaan.
“Jangan sampai take it for granted. Memang ini harus dipupuk, cinta tanah air itu harus dipupuk supaya kita tidak kehilangan jati diri dan identitas kita,” pungkas Fadli.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Pengganti Antarwaktu (Dirut PAW) LPP TVRI, Tubagus Fiki Chikara Satari mengatakan jika video aransemen baru lagu ‘Hari Kemerdekaan’ akan diperluas penayangannya melalui jaringan TVRI. Di mana, karya tersebut nantinya ditayangkan di 34 stasiun TVRI di seluruh Indonesia serta melalui TVRI World yang menjangkau sekitar 30 negara.

“Insya Allah Pak Menteri (aransemen baru lagu ‘Hari Kemerdekaan’) ini ditayangkan bukan hanya nasional tapi di 34 stasiun daerah dan juga TVRI World Pak, di 30 negara,” ucapnya
Selain kerja sama dalam penyiaran musik nasional, Fiki mengungkapkan adanya pembahasan mengenai rencana pendirian museum televisi di lingkungan TVRI.
Gagasan tersebut muncul setelah dirinya berdiskusi dengan Fadli mengenai inisiatif museum film yang tengah dikembangkan Kementerian Kebudayaan. Menurut Fiki, TVRI memiliki banyak arsip, konten, dan artefak yang memiliki nilai sejarah perjalanan Indonesia.
“TVRI ini mengawal fase republik ya, dari mulai mungkin dari setengahnya lah, banyak sekali yang sayang untuk bisa kita sampaikan ke publik,” kata Fiki.
Ia berharap koleksi dan perjalanan sejarah TVRI dapat terdokumentasi dan diperkenalkan kepada masyarakat melalui museum tersebut.
“Insya Allah kita akan segera melangkah untuk menuju museum televisi di kantor TVRI,” ujarnya.









