TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyampaikan dalam rangkaian persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dirinya mendapat kabar positif mengenai minat masyarakat terhadap musik dalam negeri.
Berdasarkan data yang di dapat, ada sekitar 80 persen masyarakat Indonesia saat ini mendengarkan musik Indonesia.
“Ini satu berita gembira,” ujar Fadli di TVRI pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Meski demikian, ia menilai lagu-lagu perjuangan tetap perlu mendapat perhatian. Fadli mengatakan generasi sebelumnya terbiasa mempelajari dan menghafalkan lagu-lagu nasional melalui pendidikan.
Sementara itu, ia menuturkan jika kondisi tersebut dinilai berbeda dengan generasi muda saat ini yang memiliki pilihan musik jauh lebih beragam. Karena itu, Kementerian Kebudayaan berencana menghidupkan kembali pengenalan lagu-lagu perjuangan dengan pendekatan yang lebih menarik.
Fadli menilai upaya tersebut penting karena setiap lagu nasional memiliki sejarah, termasuk kisah para penciptanya yang turut menjadi bagian dari perjalanan perjuangan bangsa.
Salah satu lagu yang disoroti adalah “Hari Merdeka” karya Husein Mutahar. Lagu yang diciptakan pada 1946 tersebut dinilai memiliki nilai sejarah yang kuat karena penciptanya juga merupakan seorang pejuang.

“Hari Merdeka dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali sejumlah lagu perjuangan lainnya, seperti “Syukur” dan “Dari Sabang Sampai Merauke,” ujarnya
Menurutnya, lagu-lagu tersebut akan semakin menarik apabila dibawakan oleh musisi lintas generasi. Sejumlah nama yang disebut antara lain Harvey Malaiholo, Ahmad Albar, Judika, Titi DJ, Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Rita Butarbutar, Sabrina, dan Novia Bachmid.
“Jadi bukan hanya ini, ini mungkin permulaan,” katanya.
Selain menghidupkan kembali lagu-lagu lama, Kementerian Kebudayaan juga mendorong lahirnya lagu-lagu nasional baru yang membawa pesan nasionalisme dan patriotisme. Proses tersebut diharapkan melibatkan para maestro musik dan musisi berpengalaman.
Fadli menegaskan, semangat memperkenalkan kembali lagu perjuangan tidak sekadar berkaitan dengan musik. Di dalamnya terdapat pesan mengenai pentingnya menghargai sejarah dan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

“Kita nggak boleh kemerdekaan itu take it for granted. Ini hasil perjuangan para pejuang, pahlawan nasional kita dengan pengorbanan darah, air mata, jiwa,” ujarnya.
Menurut Fadli, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut dengan mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, termasuk terciptanya masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ia juga mengaitkan semangat tersebut dengan sejumlah agenda pemerintah Presiden Prabowo Subianto, seperti pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, kesehatan, swasembada pangan dan energi, serta pemanfaatan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Selain perjuangan dan pembangunan, Fadli menekankan pentingnya kebanggaan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Menurutnya, kekayaan budaya dari Sabang sampai Merauke merupakan aset nasional yang harus dijaga dan dikembangkan.
Ia menilai keberagaman Indonesia bukanlah ancaman yang dapat memecah bangsa, melainkan kekuatan yang dapat menjadi perekat persatuan.
Fadli bahkan menyebut pengalaman mengunjungi sekitar 101 negara membuatnya semakin melihat besarnya kekayaan budaya Indonesia dibandingkan negara lain.
“Saya bersaksi itu tidak ada kekuatan, kekayaan, keragaman budaya yang lebih hebat dari Indonesia,” katanya.
Menurutnya, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia perlu terus dibangun melalui berbagai ekspresi budaya, termasuk musik. Lagu-lagu nasional dan perjuangan dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan nasionalisme, memperkuat persatuan, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan harus terus dijaga.









