TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong penguatan kerja sama perdagangan, transformasi digital, dan transisi hijau untuk menjaga stabilitas ekonomi kawasan, khususnya di tengah dinamika global yang makin kompleks.
Hal tersebut disampaikannya pada Pertemuan ke-32 Menteri Perdagangan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC Ministers Responsible for Trade/APEC MRT) 2026, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Roro menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap sistem perdagangan multilateral dengan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) sebagai pilar utama.
Indonesia juga menekankan pentingnya reformasi WTO yang tetap mengedepankan prinsip berbasis anggota dan konsensus, serta memastikan perlakuan khusus dan berbeda (special and differential treatment/S&DT) tetap menjadi bagian penting bagi negara berkembang.
“Indonesia memandang reformasi WTO perlu menjaga pendekatan berbasis anggota dan konsensus, serta tetap memberikan ruang bagi kepentingan dan kebutuhan pembangunan negara berkembang,” kata Roro, dikutip Senin, 25 Mei 2026.
Kemudian, Roro juga menyampaikan bahwa Indonesia menekankan pentingnya pemulihan sistem penyelesaian sengketa WTO yang efektif dan kredibel untuk menjaga kepastian dan kepercayaan terhadap aturan perdagangan internasional.
Sejalan dengan itu, mayoritas ekonomi juga menegaskan WTO sebagai pilar utama sistem perdagangan global, meskipun terdapat pandangan mengenai perlunya peningkatan efektivitas WTO dalam merespons tantangan perdagangan saat ini.
Secara umum, WTO dan APEC tetap dipandang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan keteraturan perdagangan internasional. Secara khusus, peran penting APEC juga ditekankan Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao. Menurutnya, APEC bisa mendorong kolaborasi antarekonomi dalam menjawab tantangan transformasi global.
“Kami sangat mementingkan prinsip keterbukaan, inovasi, dan kerja sama, serta menyerukan penguatan kolaborasi regional untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global,” ujar Wang Wentao yang juga bertindak selaku Ketua (Chair) Pertemuan ke-32 APEC MRT.
Pada pertemuan tersebut, ekonomi APEC juga menyepakati pentingnya pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk perdagangan dan rantai pasok, termasuk penguatan keamanan, keandalan, pertukaran pengalaman, pengembangan kapasitas, serta pembahasan sukarela mengenai regulasi perdagangan dan standar terkait AI.
Indonesia pun menilai transformasi digital dan transisi hijau dapat menjadi peluang baru untuk mendorong perdagangan dan investasi kawasan.
Menurut Roro, teknologi digital, termasuk AI dapat makin berperan dalam meningkatkan efisiensi perdagangan lintas batas dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital.
“Transformasi digital dan transisi hijau perlu didukung melalui kerja sama yang inklusif dan berorientasi pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas, termasuk oleh negara berkembang dan UMKM,” imbuhnya.
Selain itu, Indonesia juga terus mendorong pengembangan ekonomi hijau melalui penguatan hilirisasi industri, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, dan dukungan terhadap perdagangan barang dan jasa ramah lingkungan. Upaya dekarbonisasi global juga perlu dilakukan secara inklusif dan tetap mempertimbangkan kesiapan masing-masing ekonomi.
Lebih lanjut, para Menteri Perdagangan APEC menyepakati 2026 APEC MRT Joint Statement (Suzhou Statement) yang menegaskan komitmen implementasi Putrajaya Vision 2040, serta penguatan sistem perdagangan global yang terbuka, berbasis aturan, dan terhubung; termasuk penegasan pentingnya peran WTO sebagai pilar utama perdagangan global beserta kebutuhan reformasinya agar lebih relevan dan responsif.
Kesepakatan juga mencakup agenda Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP) melalui kerja sama teknis, peningkatan kapasitas, serta pembahasan isu perdagangan modern seperti perdagangan digital, UMKM, dan lingkungan.
Di bidang jasa, Menteri Perdagangan APEC menyepakati APEC Roadmap for Innovative, Competitive and Resilient Services (ARICRS).
Selain itu, para Menteri menyepakati penguatan kerja sama perdagangan elektronik lintas batas, perluasan partisipasi UMKM dalam ekonomi digital, serta upaya menjembatani kesenjangan digital di kawasan Asia-Pasifik.
Di bidang lingkungan, APEC menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dan risiko, pengembangan jasa lingkungan, serta penguatan kerja sama penanganan penangkapan ikan ilegal dan pembalakan liar.










