TVRINews, Jakarta
Praktik pungutan liar mengancam kualitas sajian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) mendapati laporan adanya oknum yayasan yang nekat meminta "jatah" sebesar Rp1.500 sampai Rp2.000 untuk setiap porsi makanan yang diproduksi oleh mitra pengelola dapur.
Praktik culas ini berpotensi memotong anggaran bahan baku pangan, yang pada akhirnya merugikan anak-anak penerima manfaat karena kualitas nutrisi makanan yang disajikan menurun.
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala BGN Sudaryono menegaskan pihak pemerintah tidak akan memberikan toleransi sedikit pun. Pihaknya siap memasukkan ke daftar hitam (blacklist) hingga memutus total kemitraan yayasan yang terbukti mencari untung tanpa memberi kontribusi.
"Fakta di lapangan memperlihatkan adanya perselisihan antara pengelola dapur dengan yayasan. Mitra ini yang keluar uang dan bangun fasilitas, tapi yayasan yang tidak ada kontribusi malah membebankan potongan," ungkap Sudaryono dalam keterangan resmi yang dikutip, Senin, 5 Oktober 2026.
Sudaryono menyoroti efek berantai dari aksi sunat anggaran tersebut. Ketika margin operasional mitra tergerus akibat potongan sepihak, langkah realistis yang diambil pengelola dapur adalah menurunkan porsi atau memakai bahan baku berharga murah.
Hal ini dinilai melenceng jauh dari mandat utama program MBG yang berfokus pada pemenuhan gizi seimbang bagi generasi muda.
"Potongan seribu lima ratus hingga dua ribu rupiah per porsi itu sangat berdampak. Imbasnya, porsi gizi dan kualitas sajian yang dimakan anak-anak terpaksa diturunkan. Praktik seperti ini harus dihentikan," kata Sudaryono.
Potong Jalur Perantara lewat PKS Baru
Sebagai solusi permanen, BGN tengah merombak skema kemitraan dengan merilis Perjanjian Kerja Sama (PKS) model baru. Regulasi ini akan menyambungkan BGN secara langsung dengan investor dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sekaligus menautkan peran perantara yang dinilai паразиtis.
Langkah pembersihan struktur ini diharapkan bisa menjamin setiap rupiah dari anggaran negara benar-benar terkonversi menjadi sajian makanan bergizi tinggi.
"Siapa saja yang cuma kejar setoran tanpa pernah ikut membina, tidak keluar modal, dan tak mau repot mengawasi di lapangan, pasti kita coret. Semua oknum parasit seperti ini langsung kami amputasi," tegasnya.
Ia pun meminta dukungan publik agar perbaikan tata kelola ini berjalan mulus demi menjamin masa depan gizi anak-anak di seluruh wilayah Indonesia.
"Semua kekurangan kita benahi dan yang sudah berjalan baik kita tingkatkan lagi demi mewujudkan MBG yang jauh lebih berkualitas," pungkasnya.










