TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri peluncuran gerakan Nusantara Rising: Indonesia Soft Power Initiative bertajuk “Dari Budaya Jadi Daya” yang diinisiasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, tersebut menjadi bagian dari rangkaian IdeaFest 2026, ajang tahunan industri kreatif yang mengangkat kreativitas dan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk melalui sektor kebudayaan.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon mengapresiasi KADIN Indonesia atas peluncuran gerakan Nusantara Rising. Menurutnya, inisiatif tersebut sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, sebagaimana amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Hal tersebut merupakan satu komitmen besar karena kita adalah negara yang sangat kuat secara budaya, kita ini negara yang sebenarnya adalah super power di bidang kebudayaan. Karena Indonesia adalah negara mega cultural diversity, dan begitu banyak ekspresi-ekspresi budaya yang berpotensi untuk menjadi sumber-sumber ide dan kemudian akan menjadi ekonomi budaya,”kata Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Fadli menjelaskan, perkembangan sektor kebudayaan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Di bidang seni, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional tengah membangun lima ekosistem seni, yakni seni pertunjukan, sastra, film, musik, dan seni rupa.
Menurutnya, perkembangan industri film dan musik nasional menjadi salah satu gambaran besarnya potensi ekonomi berbasis budaya Indonesia.
“Secara domestik, perkembangan film Indonesia kini luar biasa bagus, market share di film Indonesia sebanyak 67%. Dan sekarang Kementerian Kebudayaan sangat aktif mengirim para sineas Indonesia ke festival-festival film internasional untuk mendapatkan rekognisi internasional. Kemudian, musik Indonesia juga punya potensi yang sangat besar. Bahkan kalau kita lihat, 80% orang Indonesia mendengarkan musik Indonesia. Artinya, para musisi kita sudah menghasilkan karya-karya yang sangat digemari,” imbuh Menteri Fadli.
Melihat potensi tersebut, Fadli mendorong kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku industri dan bisnis, komunitas, media, serta mitra global. Kolaborasi ini dinilai penting untuk mengolah kekayaan budaya dan kreativitas Indonesia menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia optimistis gerakan Nusantara Rising: Indonesia Soft Power Initiative dapat memperluas pemanfaatan budaya sebagai sumber strategis bagi ekonomi kreatif sekaligus memperkuat soft power Indonesia di tingkat global.

[Foto: TVRINews/HO-Kemenbud]
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya memaparkan strategi untuk mengorkestrasi kekayaan budaya, talenta, dan kreativitas nasional menjadi kekuatan ekonomi sekaligus soft power Indonesia di dunia.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Rahayu Saraswati juga menekankan pentingnya mengoptimalkan kekayaan budaya Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global melalui pendekatan soft power.
Peluncuran Nusantara Rising turut dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, anggota DPR RI, serta jajaran KADIN Indonesia.
Di antaranya Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Rahayu Saraswati, Wakil Ketua Umum KADIN bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Shinta Kamdani, serta Ketua Komite Tetap Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan KADIN Indonesia Ivan Chen.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan didampingi Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori.
Menutup diskusi, Fadli berharap gerakan Nusantara Rising dapat mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif yang lebih maju dan berkelanjutan.
“Mudah-mudahan melalui gerakan ini, kebudayaan bisa memasuki tahap baru yang lebih konkrit. Kita bisa membangun ekosistem yang lebih maju, sehingga kebudayaan bukan menjadi beban atau cost center, tapi justru menjadi investasi yang sirkular dan berkelanjutan,”pungkasnya.










