TVRINews, Banda Aceh
SLB YPCC Banda Aceh menghadirkan metode belajar yang lebih interaktif dan inklusif melalui pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP). Teknologi ini memudahkan guru menyajikan materi sesuai karakter belajar setiap murid, termasuk memberi akses lebih luas bagi siswa dengan hambatan penglihatan melalui audio, video, dan tampilan yang dapat diperbesar.
Guru Kelas Hambatan Penglihatan SLB YPPC Banda Aceh, Novi Widiastuti, merasakan perubahan yang signifikan sejak menggunakan perangkat tersebut.

"Interactive Flat Panel sangat membantu pembelajaran, terutama bagi murid tunanetra yang mengandalkan informasi melalui audiovisual. Anak-anak menjadi lebih semangat, antusias, dan rasa ingin tahunya meningkat karena pembelajaran tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui media yang bisa disesuaikan dengan kemampuan penglihatan masing-masing," kata Novi, dikutip dari siaran persnya, Senin, 29 Juni 2026.
Sebelumnya, Novi lebih bergantung pada buku Braille, speaker, dan laptop dengan pengulangan materi yang cukup sering, kini ia memiliki lebih banyak pilihan media.
"Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf Braille. Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi," ujarnya.
Manfaat serupa juga dirasakan guru kelas IIIQ, Anggawinata. Menurutnya, kombinasi gambar, video, suara, dan animasi membuat anak lebih mudah memahami materi dibandingkan pembelajaran konvensional.
"Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar. Perkembangannya luar biasa," ungkapnya.
Ia menambahkan, kemampuan IFP menghadirkan materi yang fleksibel membuat guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap anak.
"Ada yang lebih mudah memahami gambar, ada yang lebih paham lewat video atau audio. Semuanya bisa disesuaikan sehingga belajar tidak lagi monoton. Anak-anak juga lebih aktif karena dapat langsung berinteraksi melalui layar sentuh," tandasnya.
Meski demikian, penggunaan teknologi di kelas tetap memerlukan pendampingan yang cermat. Anggawinata mengingatkan bahwa guru perlu selalu sigap, terutama saat mendampingi murid autisme.
"Guru harus selalu mendampingi ketika anak menggunakan IFP. Saat anak sedang tantrum, ada risiko mereka merusak layar tanpa disadari. Karena itu pengawasan yang intens dan kesiapsiagaan guru menjadi bagian penting agar pembelajaran tetap aman dan efektif," imbuhnya.
Keduanya berharap semakin banyak unit IFP di setiap kelas untuk mengisi materi pembelajaran yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, lebih banyak murid dapat merasakan manfaat pembelajaran yang inklusif, menarik, dan sesuai dengan cara belajar mereka.










