TVRINews, Lombok
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana memastikan proses rehabilitasi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascakebakaran pada 22 Agustus 2026, mengutamakan pelestarian budaya, keselamatan, dan pemulihan ekonomi masyarakat.
Widiyanti menegaskan bahwa pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga menghidupkan kembali aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Sasak.
“Prinsip kita jelas, yaitu membangun kembali Desa Adat Sade agar lebih aman dan lebih tangguh, tanpa kehilangan keaslian arsitektur serta nilai-nilai adat yang menjadi identitasnya,” kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Senin, 12 Oktober 2026.
Menurutnya, dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerugian materiil, tetapi juga menyangkut mata pencaharian dan warisan budaya masyarakat yang perlu dipulihkan secara menyeluruh.
“Namun, bagi kita, angka tersebut tidak hanya menggambarkan kerugian fisik. Ada kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan warisan budaya yang harus kita pulihkan secara bersamaan,” ujar Widiyanti.
Proses rekonstruksi Desa Adat Sade telah dimulai pada 3 September 2026 melalui ritual adat Nyemulak (Tanjak Teken) sebagai simbol dimulainya pembangunan kembali kawasan tersebut bersama para mitra.
Pembangunan tahap awal diprioritaskan pada fasilitas yang menunjang kehidupan sosial dan budaya masyarakat, mulai dari masjid, sekenam atau ruang berkumpul, museum semipermanen, hingga fasilitas kamar mandi dan toilet.
Rekonstruksi selanjutnya akan dilakukan secara menyeluruh dengan tetap mempertahankan karakteristik arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, serta pola kehidupan masyarakat Sasak.
Selain pelestarian budaya, pemerintah juga memperhatikan aspek keselamatan masyarakat dan wisatawan.
Pembangunan kembali kawasan tersebut mencakup sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi, ketersediaan pasokan air dan alat pemadam, perbaikan sanitasi, serta infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.
Di sisi lain, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja senilai total Rp817,5 juta untuk membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas produktif selama proses rehabilitasi berlangsung.
Bantuan tersebut meliputi 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun.
Dukungan ini diharapkan membantu para perajin dan pelaku UMKM kembali berproduksi, memasarkan hasil kerajinan, serta memperoleh penghasilan tanpa harus menunggu seluruh pembangunan fisik selesai.
Dalam kunjungan tersebut, Widiyanti juga berdialog dengan Ina Aris, salah satu penenun di Desa Adat Sade. Ina berharap produk tenun khas Sade semakin dikenal wisatawan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Motif tenun Sade punya ciri khas tersendiri. Saya berharap, wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga mengenal proses pembuatan tenun dan membeli produk lokal. Dengan begitu, tenun Sade semakin dikenal, tetap lestari, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ucap Ina.
Widiyanti menegaskan masyarakat adat harus menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan pemulihan. Keterlibatan warga dinilai penting agar pembangunan tetap menghormati nilai adat, mempertahankan kearifan lokal, dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Selain pemulihan fisik dan ekonomi, Kemenpar menyiapkan program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola pariwisata dan usaha kreatif berbasis budaya.
Program tersebut mencakup peningkatan kompetensi pemandu wisata, standar keselamatan dan pelayanan, pembaruan katalog kerajinan, penguatan merek produk, serta pemasaran digital.
Kemenpar juga mempersiapkan peluncuran kembali Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya dengan memperhatikan kesiapan masyarakat, fasilitas pendukung, dan standar keselamatan bagi pengunjung.
Dalam kesempatan yang sama, Widiyanti meninjau Museum Sade bersama kurator Museum NTB dan mencoba fasilitas tur virtual yang didukung Politeknik Pariwisata Lombok.
Pemanfaatan teknologi digital ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperluas akses terhadap warisan budaya Sasak.
Kepala Dusun Adat Sade Endap menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan dukungan pemerintah selama proses pemulihan.
“Bagi kami, Sade bukan sekadar destinasi wisata, tetapi rumah bagi budaya dan adat istiadat warisan leluhur yang harus terus kami jaga. Kami berharap dukungan dari Ibu Menteri dan seluruh pihak dapat mempercepat pemulihan Sade agar masyarakat kembali beraktivitas dan tradisi kami tetap lestari,” tutur Endap.
Widiyanti berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan mitra pembangunan terus berlanjut hingga pemulihan benar-benar memberikan manfaat bagi warga.
“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak bangunan yang kembali berdiri, melainkan saat masyarakat kembali berdaya, budaya tetap hidup, ekonomi bergerak, dan wisatawan dapat berkunjung dengan aman,” ujar Widiyanti.










