Kepulauan Anambas merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Kepulauan Anambas bagai surga di utara Indonesia. Bentangan luas perairan Kepulauan Anambas mencapai 46.074 Km persegi dengan 255 pulau-pulau kecil.
Lokasinya yang berbatasan langsung dengan tiga negara tetangga yaitu Malaysia, Vietnam dan Malaysia. Posisi tersebut menjadikannya salah satu kabupaten terdepan Indonesia.
Tak hanya wisata panorama, daerah kepulauan ini juga kaya akan potensi baharinya.
Budidaya pembesaran ikan kerapu di Anambas paling banyak di Kecamatan Siantan Tengah. Total area budidaya sekitar 1,5 hektar dari potensi yang ada seluas 700 hektar.

Tim tvrinews.com berkesempatan mengunjungi desa ini untuk melihat pembudidayaan ikan kerapu. Untuk menuju ke sana dibutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan perahu motor dari ibu kota kabupaten, yakni Tarempa.

Salah seorang nelayan ikan kerapu di Kecamatan Siantan Tengah, Aldi mengatakan rata-rata pembudidaya ikan kerapu menggunakan keramba jaring tancap.
Aldi yang telah lima tahun menekuni pembudidaya ikan kerapu ini memiliki hampir 900 ikan kerapu. Menariknya, dalam membesarkan ikan, para pembudidaya di Anambas masih menggunakan ikan rucah.
Dengan waktu pembesaran minimal tujuh bulan ikan kerapu siap dipanen dan dipasarkan. Harganya pun fantastis, bahkan kerapu sunu bisa menembus Rp280.000/kg.
Ikan kerapu hasil budidaya Anambas sudah menembus pasar ekspor Hongkong. Namun saat ini aktivitas ekspor ikan kerapu ke Hongkong, mandek sejak Mei 2025.
"sejak bulan Mei kemarin. Hampir dari bulan Mei, Juni, Juli belum ada kapal Hongkong yang menjemput," ujar Aldi.
Mandeknya ekspor ikan kerapu hidup ke Hongkong akibat kebijakan ketat Pemerintah China yang membatasi akses kapal dagang masuk ke wilayah Hongkong melalui jalur laut sejak terjadinya perang dagang antara Amerika dan China.
Kondisi tersebut, membuat kapal-kapal Hongkong tak lagi ke pelabuhan muat yang ada di Natuna dan Anambas untuk mengambil ikan ekspor.
Dan akhirnya kondisi itu berdampak langsung terhadap nelayan dan pelaku usaha budidaya ikan di Kepulauan Riau. Banyak dari mereka kini mengalami kerugian besar karena ikan hidup tidak bisa dikirim, sementara biaya operasional terus berjalan. Dan Aldi sebagai pembudidaya pun berharap situasi kembali normal sedia kala.
" Harapannya kita sebagai pembudidaya ikan supaya dipermudah agar ekonomi kita bisa bangkit di tengah ekonomi yang sulit," ujar Aldi.










