TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menegaskan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda yang memiliki karakter patriotik, gigih, dan berjiwa empati
Ia mendorong anak muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi berani mengambil peran sebagai pembuat perubahan.
Pesan tersebut disampaikan Sugiono dalam puncak acara Indonesian Youth Summit (IYS) 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kegiatan itu digelar untuk menyambut satu abad Sumpah Pemuda.
Dalam pidatonya, Sugiono membagi manusia ke dalam tiga kategori. Pertama, those who make things happen, yakni kelompok yang mengambil tindakan dan menciptakan perubahan melalui kemampuan serta tenaga yang dimiliki.
Kedua, those who see things happen, yaitu mereka yang hanya menyaksikan perubahan. Ketiga, those who ask what happened, yakni kelompok yang bahkan tidak memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Melalui interaksi dengan peserta, Sugiono mengapresiasi antusiasme para pemuda yang menyatakan ingin menjadi kelompok pertama, yaitu orang-orang yang membuat perubahan.
"Artinya ada harapan, ada optimisme bahwa ke depan negara ini akan menjadi negara besar dan negara maju, karena anak-anak mudanya adalah orang-orang yang ‘make things happen’," ujar Sugiono dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ia kemudian mengingatkan kembali peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Saat itu, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan daerah menyatakan tekad untuk menjadi satu kesatuan melalui ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.
Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah kelemahan, melainkan modal dan kekuatan bangsa. Ia mengibaratkan Indonesia sebagai taman bunga yang terlihat indah karena memiliki beragam jenis dan warna bunga.
Di tengah persaingan global dan disrupsi teknologi informasi, Sugiono menilai tantangan generasi muda semakin kompleks. Sehingga, ia menekankan pentingnya ketangguhan, kegigihan, serta rasa cinta tanah air sebagai modal untuk menjaga eksistensi bangsa.
"Tidak ada negara besar yang eksis dan survive jika pemuda-pemudinya tidak memiliki rasa patriotisme yang tinggi dan tidak mencintai bangsanya," ucap Sugiono.
Sugiono juga menyinggung Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat yang hadir dalam acara tersebut. Ia menyebut legenda bulu tangkis dunia itu sebagai contoh anak muda yang mampu menorehkan prestasi melalui kegigihan, kerja keras, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Sugiono berpesan agar generasi muda terus memperluas wawasan dengan membaca dan mendengarkan. Ia juga meminta mereka memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
"Seringkali kita menganggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang biasa saja, padahal di balik itu ada perjuangan luar biasa dari para generasi pembebas. Harapan bangsa ini ada di pundak kalian semua," tutur Sugiono.










