TVRINews, Banda Aceh
Wali Kota (Walkot) Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal mengungkapkan rendahnya cakupan imunisasi di Banda Aceh mulai berdampak pada meningkatnya kasus penyakit menular di masyarakat. Hingga saat ini, tercatat 119 kasus campak ditemukan di Banda Aceh.
Hal itu disampaikan Illiza saat mendampingi kunjungan Wakil Menteri Kesehatan RI dalam agenda percepatan penanganan anak zero dose di Banda Aceh, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurut Illiza, capaian imunisasi dasar lengkap di Banda Aceh pada 2025 baru mencapai 34 persen. Bahkan, sekitar 63 persen anak masih berstatus zero dose atau belum pernah menerima vaksin dasar sama sekali.
“Nah, ini tentu kondisi yang tidak bisa kami anggap biasa,” kata Illiza dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia mengatakan rendahnya imunisasi berpengaruh langsung terhadap meningkatnya risiko penyakit menular. Selain campak, Banda Aceh juga menghadapi kasus pertusis atau batuk rejan serta lebih dari 1.600 kasus tuberkulosis.
“Nah, ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa rendahnya cakupan imunisasi ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko penyakit menular di dalam masyarakat,”jelasnya.
Illiza menilai maraknya hoaks dan informasi keliru mengenai vaksin menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah daerah pascapandemi Covid-19.
“Kita sadar bahwa sebagian masyarakat masih memiliki keraguan, masih termakan isu hoaks, dan juga mendapat informasi yang tidak benar terkait imunisasi,”ucapnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih persuasif dan agamis. Pemkot juga menggandeng tokoh agama, kader PKK, sekolah, hingga influencer untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi.
Menurut Illiza, pendekatan melalui khutbah dan dakwah menjadi penting karena sebagian besar penolakan imunisasi justru datang dari kelompok ayah dalam keluarga.
“Rata-rata yang melarang itu adalah kelompok laki-laki, bapak-bapaknya, bukan ibu-ibunya,”ucapnya.
Selain edukasi, Pemkot Banda Aceh juga memperkuat layanan imunisasi melalui Puskesmas dan Posyandu, termasuk melakukan pendataan anak secara by name by address serta jemput bola door to door ke rumah warga.
“Pendekatan door to door ini penting karena kadang ada keluarga yang bukan menolak, tetapi belum mendapatkan informasi yang utuh,”pungkasnya.
Ia berharap dukungan pemerintah pusat dan seluruh elemen masyarakat dapat membantu meningkatkan cakupan imunisasi di Banda Aceh sehingga kasus penyakit menular dapat ditekan.










