TVRINews, Denpasar
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau secara langsung kondisi Museum Le Mayeur di kawasan pesisir Sanur, Kota Denpasar, Bali. Museum seni rupa ini menyimpan rekam jejak historis serta karya-karya maestro pelukis asal Belgia, Adrien Jean Le Mayeur de Merprès.
Dalam peninjauannya, Menbud Fadli menyempatkan diri melihat dari dekat koleksi lukisan asli karya sang maestro. Ia secara khusus menyoroti kondisi fisik sejumlah karya yang mulai mengalami penurunan kualitas, terutama terkait degradasi warna akibat faktor usia dan lingkungan.
“Salah satu tantangannya adalah memudarnya warna-warna. Karena kalau kita lihat warna aslinya, ini kan sangat kuat sekali. Tapi di bawah juga kita lihat tadi ada warna-warna yang memudar. Terutama yang bahannya atau medianya itu adalah karung atau bakor, yang memang pada masa Perang Dunia II sangat langka untuk mendapatkan kanvas,” ungkap Menbud Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews.com, Senin, 31 Agustus 2026.
Pengiriman Tim Konservasi dan Tantangan Lingkungan Pesisir
Menyadari pentingnya nilai keaslian karya tersebut, Kementerian Kebudayaan bergerak cepat. Menbud menyatakan bahwa pihaknya akan segera mengirimkan tim ahli dari Galeri Nasional untuk melakukan asesmen komprehensif terkait kebutuhan penanganan dan konservasi lukisan-lukisan di museum ini.

(Menteri Kebudayaan, Fadli Zon saat meninjau Museum Le Mayeur di Sanur, Denpasar, Bali, Minggu, 30 Agustus 2026. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud/Vidhy Fellizano Sfinoza])
Menurutnya, lokasi museum yang berdiri tepat di pinggir pantai memberikan tantangan tersendiri dalam hal pemeliharaan preventif dan kuratif terhadap karya seni akibat tingkat kelembapan serta cuaca laut.
“Lukisan Le Mayeur merupakan lukisan yang otentik. Tentu karena ini berada di pinggir pantai, mempunyai tantangan tersendiri di dalam pemeliharaan dan konservasinya,” tambah Menbud.
Sejarah Singkat dan Potensi Wisata Museum Le Mayeur
Adrien Jean Le Mayeur de Merprès merupakan seniman asal Belgia yang gemar menjelajahi berbagai belahan dunia sebelum akhirnya memutuskan menetap di Bali sejak tahun 1933. Di Pulau Dewata, ia terpikat dengan keindahan alam dan budayanya, serta kemudian mempersunting Ni Nyoman Pollok, seorang penari Legong yang sekaligus menjadi model utama dalam sebagian besar karya lukis impresionistiknya.
Rumah tinggal yang mereka bangun di pesisir Sanur kini bertransformasi menjadi Museum Le Mayeur, yang merawat serta memamerkan 88 karya seni rupa beserta aset peninggalan bersejarah sang maestro. Lukisan-lukisan tersebut merekam keindahan alam Bali, potret perempuan lokal, serta dinamika kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Di balik nilai historisnya yang tinggi, Menbud Fadli juga menyoroti masih rendahnya tingkat kunjungan ke Museum Le Mayeur. Saat ini, rata-rata kunjungan tercatat berkisar di angka 100 orang per bulan, yang sebagian besar didominasi oleh wisatawan mancanegara asal Eropa.
Melihat potensi besar tersebut, Kementerian Kebudayaan bersama Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk memperkuat strategi promosi agar museum ini semakin dikenal luas oleh masyarakat domestik maupun internasional, sekaligus berfungsi optimal sebagai ruang edukasi, pelindungan budaya, dan destinasi wisata sejarah yang membanggakan.










