TVRINews, Jakarta
Menbud Fadli Zon hadiri takziah maestro Nasirun, kenang sosok inklusif, dan siapkan pameran 40 hari wafat di Galeri Nasional.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengenang almarhum Nasirun sebagai sosok seniman besar yang mendedikasikan hidupnya serta memberikan kontribusi monumental bagi perkembangan seni rupa tanah air.
Belasungkawa mendalam tersebut disampaikan saat mengikuti takziah keluarga maestro seni rupa terkemuka Indonesia yang wafat pada 1 Agustus 2026.
Fadli Zon menyebut kepergian Nasirun sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi para seniman, kolega, pecinta seni, dan masyarakat Indonesia yang mengenal karya serta sosok almarhum.
“Kita tentu sangat kehilangan seorang tokoh yang luar biasa dan telah memberi kontribusi besar bagi perjalanan seni rupa Indonesia. Kami mengucapkan duka cita yang mendalam sejak menerima berita kepergian almarhum,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan pers di Jakarta, dikutip Senin, 31 Agustus 2026.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi dan apresiasi negara atas jasa sang maestro, Kementerian Kebudayaan berencana menyelenggarakan pameran khusus karya-karya Nasirun di Galeri Nasional Indonesia untuk memperingati 40 hari wafatnya. Pameran ini diproyeksikan menjadi pameran akbar terakhir di Galeri Nasional Indonesia sebelum gedung tersebut memasuki tahap renovasi.
Ruang Terbuka dan Napas Tradisi Nusantara
Kedekatan antara Fadli Zon dan Nasirun telah terjalin belasan tahun. Di mata Menbud, Nasirun bukan sekadar seniman berkaliber tinggi, melainkan pribadi hangat, ramah, suka tertawa, serta memiliki pergaulan luas tanpa sekat.
Rumah dan galeri sang maestro dikenal selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi maupun melihat proses kreatif secara langsung.

(Menteri Kebudayaan, Fadli Zon saat berada di galeri sang maestro, Nasirun [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Pintu rumah beliau pun selalu terbuka untuk siapa saja, hampir boleh dibilang kadang-kadang rumahnya tidak pernah terkunci, dan tidak pernah juga berhenti untuk berkarya,” kenang Fadli Zon.
Karakter inklusif tersebut berpadu sempurna dengan napas tradisi dan spiritualitas yang kental dalam setiap goresan karya Nasirun. Elemen wayang hingga nilai-nilai budaya Nusantara menyatu secara organik, membentuk ciri khas jiwa sang maestro yang sulit dipisahkan dari karya-karyanya.
*Apresiasi Keluarga dan Doa untuk Maestro*
Sementara itu, istri almarhum, Supartilah, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas perhatian dan dukungan penuh yang diberikan oleh pemerintah serta kalangan pencinta seni. Ia berharap warisan seni peninggalan suaminya dapat terus menghidupkan ekosistem kesenian di tanah air.
“Semoga setiap karya dari almarhum Nasirun bisa ikut meramaikan dunia kesenian, khususnya pada negara, pada umumnya juga untuk masyarakat Indonesia yang mencintai seni,” ucap Supartilah.
Lebih lanjut, Fadli Zon mendoakan agar segala amal kebaikan serta karya pengabdian Nasirun diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan.










