TVRINews, Surabaya
Program kebekerjaan luar negeri yang dijalankan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), membuka peluang besar bagi lulusan vokasi untuk bekerja di berbagai negara.
Melalui program tersebut, ribuan lulusan SMK dan lembaga kursus kini bersiap meniti karier di luar negeri demi memperbaiki taraf hidup keluarga dan meraih masa depan lebih baik.
Salah satu peserta program tersebut adalah Muhammad Ogya As Syifa, alumni SMKN 1 Tulungagung, Jawa Timur. Pemuda yang akrab disapa Ogya itu akan berangkat bekerja ke Korea Selatan bersama ribuan lulusan lainnya.
Ogya mengaku memilih Korea Selatan karena ingin memperoleh penghasilan yang lebih besar untuk membantu ekonomi keluarga sekaligus mengembangkan usaha genteng milik orang tuanya di kampung halaman.
“Kalau Korea itu gajinya besar. Jadi, saya bisa mempersingkat waktu untuk mengumpulkan uang untuk mengembangkan usaha di kampung, beli tanah, dan membahagiakan orang tua,”ujar Ogya dalam keterangan tertulis, Sabtu, 22 Mei 2026.
Pemuda asal Desa Ngranti, Boyolangu, Tulungagung itu mengatakan usaha genteng keluarganya merupakan warisan turun-temurun yang ingin terus ia kembangkan. Ia berharap pengalaman bekerja di Korea Selatan dapat memberinya pengetahuan baru, termasuk soal teknologi dan budaya kerja.
“Saya dari keluarga sederhana. Saya ingin usaha genteng orang tua saja bisa berkembang maju, menyerap banyak tenaga kerja sehingga bisa membawa manfaat bagi banyak orang di sini,”jelasnya.
Semangat serupa juga dimiliki Taufik Hidayat Febrian, alumnus SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang yang akan bekerja di Jepang pada Juli mendatang. Taufik dijadwalkan bekerja di perusahaan otomotif di Kota Kobe.
Taufik berasal dari keluarga petani penggarap dengan kondisi ekonomi terbatas. Demi melanjutkan pendidikan, ia merantau ke Malang dan tinggal di asrama sekolah yang disediakan secara gratis. Menurut Taufik, Jepang dipilih karena menawarkan sistem ketenagakerjaan yang baik dan keamanan kerja yang jelas.
“Kalau untuk alasan kenapa Jepang, tentu karena gajinya menjanjikan, aturan hukum tenaga kerjanya sangat baik. Di samping itu, ada semacam keterjaminan keamanan, tertib, dan menurut pengalaman kakak-kakak kelas sebelumnya, sesuai antara apa yang diberikan dengan yang dijanjikan dalam kontrak kerja,”ungkap Taufik.
Ia menargetkan bekerja selama 10 tahun di Jepang sebelum kembali ke Indonesia untuk membangun usaha sendiri.
“Mau buka usaha sendiri. Jadi pengusaha sukses. Dagang pokoknya biar sukses, biar orang tua bangga dan keluarga kami tidak diremehkan,”lanjutnya.
Sementara itu, alumnus LKP Duta Mandiri Tulungagung, Kurniawanto, memiliki cita-cita berbeda. Setelah bekerja di Jepang di bidang caregiver, ia ingin mendirikan panti jompo di Indonesia.
“Jadi, cari modal dan pengalaman dulu di Jepang, kemudian kembali ke Indonesia bangun panti jompo. Itu impian saya karena kan saya kerja di bidang caregiver,”kata Kurniawanto.
Berbeda lagi dengan Lovely Junero Berneza Lasut, alumnus SMKN 1 Buduran, Sidoarjo. Sejak SMP, Junero sudah bercita-cita bekerja di Jepang dan serius mempelajari bahasa Jepang untuk mewujudkan impiannya. Ia berharap bisa bekerja sambil melanjutkan kuliah di Jepang dan membawa kedua orang tuanya tinggal bersama di sana.
“Inginnya bisa bekerja sambil kuliah di Jepang, kemudian menikah dengan orang Jepang dan bawa kedua orang tua untuk tinggal di Jepang,”ujar Junero.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa bekerja di luar negeri bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjadi kesempatan belajar hidup mandiri dan membawa nama baik Indonesia.
“Ke mana pun kalian pergi disiplin, tunjukkan kompetensi kalian serta bawa dan jaga nama baik bangsa karena sesungguhnya kalian tidak hanya bekerja, tetapi juga duta bangsa,”kata Tatang.










